Bunyi
bagaimana dapat kukeluar
dari mulut pagi riuh
dari raung singi lapar ini?
fajar tersentak bagai gonggok
dengan kicau kanak-kanak
tersepit dalam enjin bas
radio dan tv sehari suntuk
menggelegak di sudut kamar
hon van sayur berulang kali
menghiris buaian bayi
sementara jerit kereta sorong
meninggi bersama matahari
senja letih disambut salak
sekumpulan anjing yang galak
penghuni kota menerbangkan keluarga
menghampiri pipi malam
yang digebukan pelbagai bedak
jauh di sebuah gang
di bawah kilat gincu lampu
suara berbaur dari babak berahi
suara yang menghidupkan malam
bagaimana dapat kulari
dari mulut malam riuh
ke dalam perut burung sunyi?
1987
Sumber: Horison (Desember, 1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Bunyi" karya T. Alias Taib menghadirkan pengalaman hidup urban melalui kepadatan suara. Bunyi-bunyi kota—dari pagi hingga malam—tidak sekadar menjadi latar, melainkan menekan, mengepung, dan membentuk kesadaran aku lirik. Dengan larik-larik panjang dan bertumpuk, penyair menampilkan dunia yang riuh sebagai ruang yang sulit dihindari, bahkan nyaris mustahil untuk ditinggalkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebisingan kehidupan kota dan keterasingan manusia di dalamnya. Puisi ini juga memuat tema kejenuhan, tekanan hidup modern, dan kerinduan akan kesunyian.
Puisi ini bercerita tentang usaha seseorang untuk keluar dan melarikan diri dari hiruk-pikuk bunyi yang menguasai hari. Dari “mulut pagi riuh” hingga “mulut malam riuh”, penyair terperangkap dalam suara mesin, kendaraan, media, teriakan, dan aktivitas manusia. Kota digambarkan sebagai organisme hidup yang terus mengunyah manusia dengan suara-suara tanpa henti, sementara penyair mendambakan “perut burung sunyi” sebagai ruang hening yang nyaris mustahil dicapai.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik terhadap kehidupan modern yang bising, cepat, dan menyesakkan. Bunyi bukan lagi sekadar fenomena fisik, melainkan simbol tekanan psikologis dan sosial. Kota tidak memberi ruang bagi keheningan batin; manusia dipaksa hidup dalam arus suara yang terus-menerus, hingga kehilangan kesempatan untuk mendengar dirinya sendiri.
Metafora “mulut” dan “perut” menyiratkan bahwa kebisingan seolah memakan dan menelan manusia, sementara kesunyian menjadi sesuatu yang langka dan nyaris utopis.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa riuh, sesak, dan melelahkan. Pembaca diajak merasakan kepadatan suara yang bertumpuk dari pagi ke malam, menimbulkan kesan keletihan fisik sekaligus batin.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dibaca sebagai peringatan akan pentingnya ruang hening dalam hidup manusia. Tanpa kesunyian, manusia berisiko kehilangan keseimbangan batin dan kemanusiaannya sendiri.
Puisi "Bunyi" adalah puisi yang menggugat kenyamanan hidup modern. T. Alias Taib berhasil mengubah suara menjadi pengalaman eksistensial: bunyi bukan hanya didengar, tetapi dirasakan sebagai beban yang mendorong manusia untuk merindukan kesunyian yang semakin jauh.
Karya: T. Alias Taib
Biodata T. Alias Taib:
- T. Alias Taib lahir pada tanggal 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, Malaysia. Ia mulai menulis puisi dan cerpen pada tahun 1960.
- T. Alias Taib meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kuala Lumpur, Malaysia.
