Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Buron (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Buron" karya Gunoto Saparie bercerita tentang seorang buron yang berjalan di bawah sinar bulan, menempuh jalan terjal, sungai lebar, dan ...
Buron

di bawah sinar bulan ia berjalan
melewati jalan terjal banyak tikungan
melintasi sungai lebar dan hutan lebat
bayangan pintu dan terali besi itu pun berkelebat...

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Buron" karya Gunoto Saparie menghadirkan kisah perjalanan seorang tokoh yang berada dalam kondisi tertekan dan terancam. Dengan latar malam hari dan ruang alam yang liar, puisi ini menampilkan suasana pelarian yang penuh ketegangan. Meski ditulis secara singkat, puisi ini menyimpan makna simbolik tentang kebebasan, ketakutan, dan bayang-bayang masa lalu yang terus memburu manusia.

Diksi yang digunakan sederhana, tetapi efektif membangun gambaran visual dan psikologis yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pelarian dan keterasingan. Tokoh dalam puisi digambarkan sebagai seseorang yang terus bergerak, menjauh dari ancaman, baik yang bersifat fisik maupun batin. Tema kebebasan yang semu juga muncul, karena meskipun tokoh sedang melarikan diri, bayangan penjara masih menghantuinya.

Puisi ini bercerita tentang seorang buron yang berjalan di bawah sinar bulan, menempuh jalan terjal, sungai lebar, dan hutan lebat. Perjalanan ini menunjukkan usaha keras untuk melepaskan diri dari kejaran atau hukuman. Namun, di tengah pelarian tersebut, bayangan pintu dan terali besi terus muncul, menandakan bahwa masa lalu atau ancaman penjara belum benar-benar hilang dari pikirannya.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa pelarian tidak selalu berarti kebebasan. Tokoh buron mungkin telah menjauh secara fisik, tetapi secara batin ia masih terbelenggu oleh rasa takut, trauma, atau rasa bersalah. Bayangan pintu dan terali besi menjadi simbol penjara psikologis yang sulit dilepaskan.

Puisi ini juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap kondisi sosial, di mana seseorang terpaksa menjadi buron akibat sistem atau keadaan yang menindas.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tegang, sunyi, dan mencekam. Latar malam, sinar bulan, dan alam liar memperkuat kesan kesendirian dan kecemasan. Tidak ada dialog atau interaksi, hanya gerak dan bayangan, yang menambah rasa terisolasi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini dapat dimaknai menyampaikan amanat bahwa kebebasan sejati tidak hanya berkaitan dengan ruang fisik, tetapi juga dengan kondisi batin. Selama rasa takut dan bayang-bayang masa lalu masih menghantui, manusia belum sepenuhnya merdeka. Keberanian menghadapi kenyataan menjadi jalan keluar dari pelarian tanpa akhir.

Puisi "Buron" karya Gunoto Saparie menghadirkan potret manusia yang terus berlari dari ketakutan dan bayang-bayang masa lalu. Dengan bahasa yang ringkas dan penuh citraan, puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna kebebasan dan keberanian menghadapi kenyataan. Di balik perjalanan fisik yang berat, tersimpan perjalanan batin yang jauh lebih menentukan arah hidup manusia.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Buron
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.