Puisi: Concierto di Monona (Karya Mochtar Pabottingi)

Puisi “Concierto di Monona” karya Mochtar Pabottingi menegaskan bahwa rindu, cinta, dan derita bukan sekadar pengalaman personal, melainkan sumber ...
Concierto di Monona

Rodrigo!
Kaukah yang melantunkan lengking rindu
di sepanjang gigir telaga
Darimukah denting-denting itu. Di padang-padang salju

Concierto ....
Kau dengarkah rindumu disergap desau
kala jarum-jarum cemara senyap musim gugur
terkubur sembilu
Kau tangkapkah lirih sinrili' yang tak kunjung pergi
dan tak kunjung kembali

Dari segenap derita yang terus merantai
dan terus merantai. Dalam harapan
Dari segenap cinta yang terus berdesir
atau tersungkup beku
Bagai butir-butir air mata. Dalam salju
yang tertinggal
dan menggigil
pada tirus ranting-ranting

.... de Aranjuez
Seperti denting-denting itulah mimpi
Seperti serakan manik-manik
Yang terus saja berderai

Rodrigo, Rodrigo!
Kau tangkapkah sukacita derita itu
Silih rengkuh berganti luput

Rodrigo, Rodrigo!
Dari manakah kau belajar
Merayakan cinta. Begitu tulus
Kau dengarkah lengking rindu itu. Menggapai langit
Bagai tari Pakanjara' yang terus mencari
Dan terus mencari
Sepanjang Monona. Sepanjang musim

Sumber: Rimba Bayang-Bayang (2003)

Analisis Puisi:

Puisi “Concierto di Monona” karya Mochtar Pabottingi merupakan puisi yang kaya rujukan musikal, kultural, dan emosional. Judulnya segera mengingatkan pembaca pada Concierto de Aranjuez karya Joaquín Rodrigo, sebuah komposisi gitar klasik yang sarat nuansa lirih, rindu, dan kesyahduan. Puisi ini memadukan musik, alam, dan perasaan manusia dalam satu lanskap kontemplatif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan penderitaan yang dirayakan melalui seni. Rindu, cinta, dan derita tidak diposisikan sebagai beban semata, melainkan sebagai sumber keindahan yang dapat dilantunkan, didengar, dan direnungkan.

Puisi ini bercerita tentang dialog imajiner tokoh "aku" dengan Rodrigo—simbol pencipta musik atau seniman—yang melantunkan lengking rindu di tengah lanskap alam: telaga, padang salju, cemara, musim gugur, dan Monona. Musik menjadi medium yang menghubungkan rindu pribadi dengan ruang dan musim yang luas.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa seni lahir dari pergulatan batin yang dalam. Derita dan cinta saling berkelindan, tidak pernah benar-benar selesai, namun justru dari situlah musik, puisi, dan keindahan tercipta. Rindu yang “tak kunjung pergi dan tak kunjung kembali” menandakan perasaan manusia yang abadi dan terus berulang.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa lirih, sendu, dan kontemplatif, dengan sentuhan dingin dan hening. Gambaran salju, musim gugur, dan ranting-ranting tirus memperkuat nuansa sepi, namun sekaligus sakral, seperti mendengarkan musik klasik dalam kesunyian panjang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menerima derita dan rindu sebagai bagian dari kemanusiaan, bahkan merayakannya lewat seni. Cinta yang tulus tidak selalu hadir dalam kegembiraan, tetapi sering tumbuh dari luka dan kehilangan.

Puisi “Concierto di Monona” karya Mochtar Pabottingi adalah pertemuan antara musik, alam, dan jiwa manusia. Dengan bahasa yang puitis dan rujukan lintas budaya, puisi ini menegaskan bahwa rindu, cinta, dan derita bukan sekadar pengalaman personal, melainkan sumber keindahan yang terus mencari maknanya sepanjang musim dan waktu.

Mochtar Pabottingi
Puisi: Concierto di Monona
Karya: Mochtar Pabottingi

Biodata Mochtar Pabottingi:
  • Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.