Corto Viaggio Sentimentale (1)
Kita minum dari gelas yang sama
Dan tertawa bersama-sama. Lantai dingin
Tumpukan daun-daun kuning
Dunia mengelam. Di antara botol-botol kosong
Jalan-jalan lengang itu tersembunyi
Lalu sebuah halilintar
Meledak. Percakapan kita memanjang ke utara
Menjadi rel-rel kereta api
Tanganmu sebuah ruang tunggu yang dingin
Sedang mulutmu pelabuhan. Percakapan kita mekar
Kota-kota bangkit dari embun dan kabut tebal
Gedung-gedung pemerintah bagaikan maut:
Coklat dan kehitaman
Corto Viaggio Sentimentale (2)
Ladang-ladang gandum itu kemudian lenyap
Sebuah gereja tegak dari kegelapan. Kita masih bercakap
Sepasang menara berciuman di udara
Bukit-bukit main catur. Dan kita masih bercakap
Hingga stasiun-stasiun bawah tanah terbakar
Seorang penyair kehilangan buku alamat
Para serdadu mabuk dan mencopot seragam hijaunya
Daun-daun rontok dan membusuk:
Ciuman halilintar memerahkan leherku yang pucat
Pecahan botol bersarang di kelopak mataku
Sebuah gurun terbentang. Jam meleleh
Waktu kehilangan dentang lonceng
Corto Viaggio Sentimentale (3)
Kita masih bercakap juga
Ketika sepasang lilin menari-nari
Di antara kobaran api. Mulutmu semakin lebar
Menelan kapal-kapal asing dan gelombang pasang
Lalu kota pelabuhan paling utara itu menjadi senyap
Pasir-pasir berkilauan seperti kata-kata
Udara dipenuhi garam. Seekor kuda melompat bersama angin
Adalah fantasi ungu kemerahan yang gemetar
Kulihat jari-jari tanganmu memanjang dan memutih
Seperti gaung masa lalu. Kita masih terus bercakap
Tentang tembok-tembok yang retak di sebuah dermaga
Tentang patung-patung dewa tanpa kepala
Tentang tumpahan anggur dan sperma
Corto Viaggio Sentimentale (4)
Italo Svevo, maapkan kiasanku:
Bayi-bayi mungil itu lahir dari rahim dunia
Yang sempit. Di pelipismu sebuah peradaban membara
Perang saudara pecah di mana-mana
Pikiranmu menjadi belantara sekaligus gergaji
Bagi pohon-pohon. Kita masih minum dari gelas yang sama
Percakapan kita semakin anyir bau darah
Halilintar membelah kenanganku
Seribu senapan meletus dekat telinga
Kata-kataku menjelma hujan darah dan madu
Mayat-mayat bangkit dari tanah basah
Seorang perempuan muda bolong punggungnya
Lalu cahaya fajar menyelinap di sana, seperti pencuri
1992
Sumber: Di Atas Umbria (1999)
Analisis Puisi:
Puisi “Corto Viaggio Sentimentale” merupakan rangkaian puisi naratif-liris yang menghadirkan perjalanan emosional (sentimental journey) melalui percakapan, kenangan, dan citraan sejarah peradaban. Judul berbahasa Italia—yang berarti perjalanan sentimental singkat—menjadi pintu masuk untuk memahami puisi ini sebagai pengembaraan batin yang padat, intens, dan penuh gejolak imaji.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin dan sejarah peradaban manusia yang dilalui melalui relasi intim, percakapan, dan ingatan kolektif. Tema lain yang menguat adalah kehancuran, kekerasan, erotisme, dan absurditas zaman modern.
Puisi ini bercerita tentang dua subjek (“kita”) yang terus bercakap sambil bergerak melintasi ruang dan waktu simbolik: kota, stasiun, pelabuhan, gereja, ladang gandum, hingga medan perang. Percakapan mereka menjadi kendaraan perjalanan, menghubungkan pengalaman personal dengan tragedi sosial, sejarah, dan peradaban yang runtuh.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa percakapan intim manusia tidak pernah steril dari sejarah kekerasan, perang, dan hasrat. Hubungan personal dalam puisi ini terjalin di tengah dunia yang koyak: kota-kota bangkit lalu runtuh, peradaban terbakar, dan tubuh manusia menjadi medan konflik. “Perjalanan sentimental” bukan perjalanan romantik semata, melainkan perjalanan menyusuri luka-luka kolektif manusia.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi berubah-ubah namun cenderung gelap, intens, dan apokaliptik. Ada suasana intim dan hangat di awal, tetapi perlahan bergeser menjadi muram, mencekam, dan brutal, seiring hadirnya citra perang, darah, mayat, dan kehancuran kota.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat bahwa manusia tidak bisa memisahkan cinta, percakapan, dan hubungan intim dari realitas sejarah dan kekerasan dunia. Kesadaran akan luka peradaban menjadi penting agar manusia tidak terjebak dalam ilusi romantik yang menafikan penderitaan kolektif.
Puisi “Corto Viaggio Sentimentale” adalah puisi yang menuntut pembacaan mendalam. Acep Zamzam Noor tidak menawarkan perjalanan sentimental yang sederhana, melainkan sebuah lintasan emosional yang menyingkap cinta, percakapan, dan tubuh manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah kekerasan dan kehancuran peradaban. Puisi ini menjadi refleksi bahwa dalam setiap relasi personal, selalu tersimpan gema dunia yang lebih besar dan lebih gelap.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
