Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dari Pantai ke Pantai (Karya Beni Setia)

Puisi "Dari Pantai ke Pantai" karya Beni Setia bercerita tentang camar yang menyanyikan mimpi dari satu pantai ke pantai lain. Pekik camar meresap ...

Dari Pantai ke Pantai

dari pantai ke pantai camar menyanyikan mimpi

pekiknya merasuki pesisir. Menggali-gali
(karang-karang menjalin akar di kedalaman)
"belantara remang minta bulan"

"tidurlah laut, tidurlah" kata si kunang-kunang
sebentuk kehidupan menggerak-gerakkan sayap
(kapal-kapal menggeliat di kedalaman)
mengoyak tatap, terbang ke langit

"tidurlah laut, tidurlah" kata urat-urat
matanya memenjam (Meriam dikasih bir)
kata-kata, kalimat
harapan berterbangan

dari pantai ke pantai camar menyanyikan mimpi

1982

Sumber: Horison (November, 1982)

Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi "Dari Pantai ke Pantai" karya Beni Setia menghadirkan bentangan laut sebagai ruang simbolik yang sarat kegelisahan sekaligus harapan. Dengan bahasa yang padat, fragmentaris, dan musikal, puisi ini mempertemukan suara alam, benda mati, dan bisikan manusia dalam satu lanskap puitik yang bergerak dari pantai ke pantai—seolah menggambarkan perjalanan batin yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan mimpi dan harapan manusia di tengah ketegangan alam dan kekuasaan. Laut, pantai, dan makhluk-makhluk kecil menjadi medium untuk mengekspresikan keresahan, sekaligus upaya menenangkan dunia yang terus bergejolak.

Puisi ini bercerita tentang camar yang menyanyikan mimpi dari satu pantai ke pantai lain. Pekik camar meresap ke pesisir, menggali kedalaman karang dan belantara remang yang “meminta bulan”. Di sisi lain, muncul suara kunang-kunang dan urat-urat yang membujuk laut agar tertidur, seolah ingin meredam kegaduhan dan potensi kehancuran.

Di balik lanskap alam itu, terselip gambaran kapal, meriam, dan kata-kata yang beterbangan—menandakan kehadiran manusia beserta sejarah konflik dan ambisinya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan ketegangan antara kehidupan, mimpi, dan kekuatan destruktif. Upaya menidurkan laut dapat dibaca sebagai keinginan manusia untuk menghentikan konflik, kekerasan, atau gejolak batin. Namun, hadirnya meriam dan kapal di kedalaman menyiratkan bahwa ancaman selalu mengintai, bahkan ketika segalanya tampak tenang.

Mimpi yang dinyanyikan camar menjadi simbol harapan yang terus berpindah, rapuh, tetapi tidak pernah sepenuhnya padam.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa lirih, magis, dan tegang secara halus. Ada upaya menenangkan (“tidurlah laut, tidurlah”), namun ketenangan itu dibayang-bayangi oleh pekik, pekatnya remang, serta simbol-simbol kekerasan yang tersembunyi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menjaga harapan dan kewaspadaan secara bersamaan. Dunia tidak pernah sepenuhnya aman, tetapi mimpi—sekecil apa pun—perlu terus dinyanyikan agar kehidupan tetap bergerak dan tidak tenggelam dalam gelap.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan auditif, antara lain:
  • “camar menyanyikan mimpi” sebagai imaji suara dan harapan.
  • “karang-karang menjalin akar di kedalaman” sebagai imaji visual yang simbolik.
  • “kunang-kunang menggerak-gerakkan sayap” sebagai imaji cahaya kecil di tengah gelap.
  • “harapan berterbangan” sebagai imaji abstrak yang dilayangkan ke ruang puitik.
Imaji-imaji tersebut membangun suasana laut yang hidup, berlapis, dan penuh gerak.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, pada laut yang diajak tidur dan karang yang menjalin akar.
  • Metafora, pada mimpi yang dinyanyikan dan harapan yang berterbangan.
  • Repetisi, pada larik “dari pantai ke pantai camar menyanyikan mimpi” sebagai penegasan gerak dan kesinambungan.
  • Simbolisme, pada kapal, meriam, dan bulan sebagai lambang sejarah, kekuasaan, dan harapan.
Puisi "Dari Pantai ke Pantai" karya Beni Setia adalah perenungan puitik tentang mimpi yang terus bergerak di tengah dunia yang rapuh dan penuh ketegangan. Dengan lanskap laut yang magis dan simbol-simbol yang kuat, puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa harapan memang mudah terancam, tetapi justru karena itulah ia perlu terus dinyanyikan—dari pantai ke pantai.

Beni Setia
Puisi: Dari Pantai ke Pantai
Karya: Beni Setia

Biodata Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.