Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme (Karya Remy Sylado)

Puisi “Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme” karya Remy Sylado bercerita tentang sikap bangsa Indonesia yang menolak dan membenci kolonialisme ...
Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme

Indonesia
bangsa
Belanda
bangsat.

Bandung, 1972

Sumber: Puisi Mbeling (2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme” karya Remy Sylado merupakan salah satu contoh puisi sangat singkat tetapi sarat muatan ideologis dan emosional. Dengan hanya empat baris pendek, penyair menghadirkan ledakan makna yang keras, frontal, dan tidak kompromistis. Kesederhanaan bentuk justru mempertegas sikap dan pesan yang ingin disampaikan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tema sosial dan politik, khususnya perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme. Puisi ini menyoroti relasi kuasa antara bangsa terjajah dan penjajah, serta menyuarakan penolakan keras terhadap praktik penindasan yang dilakukan bangsa kolonial terhadap Indonesia.

Puisi ini bercerita tentang sikap bangsa Indonesia yang menolak dan membenci kolonialisme Belanda. Penyair menempatkan kata Indonesia sebagai subjek yang bermartabat, lalu mengontraskannya secara ekstrem dengan Belanda yang diberi label hinaan. Kontras ini bukan sekadar ekspresi emosi personal, melainkan representasi kemarahan kolektif bangsa yang pernah dijajah.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap segala bentuk penjajahan dan dominasi bangsa lain. Penyair ingin menegaskan bahwa imperialisme tidak hanya melukai fisik suatu bangsa, tetapi juga merusak harga diri, kemanusiaan, dan kebebasan. Penggunaan kata kasar bukan dimaksudkan untuk provokasi semata, melainkan sebagai simbol luka sejarah yang mendalam dan belum sepenuhnya sembuh.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga keberanian untuk menyebut penindasan sebagai kejahatan tanpa perlu dibungkus bahasa halus.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini adalah kemarahan. Nada yang digunakan singkat, keras, dan menghantam, menciptakan atmosfer emosional yang tegang. Tidak ada ruang untuk kompromi atau perenungan panjang—yang ada hanyalah luapan emosi sebagai bentuk perlawanan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa setiap bangsa memiliki hak atas kebebasan dan kemerdekaannya sendiri. Sikap menjajah, menghujat, dan memaksakan kehendak terhadap bangsa lain hanya akan melahirkan kebencian, konflik, dan luka sejarah. Puisi ini juga menunjukkan kepedulian penyair terhadap bangsa Indonesia serta rasa bangga sebagai bangsa yang pernah bangkit melawan penjajahan.

Puisi "Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme" adalah puisi protes yang ekstrem dalam bentuk tetapi jelas dalam sikap. Remy Sylado menunjukkan bahwa puisi tidak selalu harus panjang dan indah untuk menyampaikan pesan yang kuat. Dengan empat baris singkat, puisi ini menjadi pernyataan politik, ungkapan kemarahan, sekaligus penegasan identitas bangsa yang menolak untuk dilupakan sejarahnya.

Remy Sylado
Puisi: Dendam pada Imperialisme-Kolonialisme
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.