Dengan Selembar Karcis
Dengan selembar karcis kulewati pintu portir
Masuklah ke dalam, katanya
kaulihat pertunjukan mimpimu
Aku pun merenung dan bercermin berkali-kali
dari muka air sumur
yang memantulkan bayang kesia-siaan
Ketika usia lapuk
digerogoti kencingmanis asamurat bahkan stroke
Tidak mungkin lagi menghindar dan sembunyi
menutup mata dengan sepuluh jari
Dengan selembar karcis kulewati pintu portir
Katakan selamat tinggal, katanya
Aku pun mengintip dari jeruji mimpi
Lihatlah duka dan kemiskinan telah kauwariskan
Kauhitung sendiri berapa banyak jejak
berserak – mengerak
menjadi jamur
di timbunan sampah umur
Radang pun mengoyak
Saat sang waktu terus memburu
(Berapa lembar lagi karcis
yang masih terselip di saku celana
aku tidak berani menghitungnya)
2009
Analisis Puisi:
Puisi "Dengan Selembar Karcis" karya Hadi Utomo menghadirkan perenungan eksistensial tentang perjalanan hidup manusia. Melalui simbol sederhana berupa “karcis”, penyair mengajak pembaca menyelami proses masuk dan keluar dari fase-fase kehidupan yang sarat penyesalan, kesadaran, serta keterbatasan manusia menghadapi waktu dan usia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia yang tak terelakkan menuju penuaan, penyesalan, dan kematian. Puisi ini juga menyentuh tema kefanaan, tanggung jawab personal, serta kesadaran akan warisan hidup yang ditinggalkan seseorang.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melintasi pintu-pintu kehidupan dengan “selembar karcis”, seolah-olah hidup adalah sebuah pertunjukan yang hanya bisa dimasuki dan ditinggalkan sesuai aturan waktu. Tokoh "aku" digambarkan merenungi hidupnya, menatap bayangan diri di “muka air sumur”, menyadari kesia-siaan, penyakit usia tua, serta jejak duka dan kemiskinan yang telah diwariskan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kesadaran pahit bahwa hidup tidak bisa diulang atau dihindari. “Karcis” menjadi simbol kesempatan hidup yang terbatas, sementara “pintu portir” melambangkan ambang batas fase kehidupan: masa muda, masa tua, hingga kematian. Penyair menyiratkan bahwa manusia sering baru benar-benar bercermin ketika waktu hampir habis, saat penyesalan dan konsekuensi hidup tak lagi bisa disembunyikan.
Selain itu, puisi ini menyiratkan kegelisahan eksistensial tentang pertanggungjawaban moral—apa yang diwariskan kepada dunia setelah hidup dilalui.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, reflektif, dan getir. Nuansa kelelahan batin dan kegentingan waktu sangat kuat, terutama melalui gambaran penyakit, kemiskinan, dan usia yang “lapuk”. Suasana tersebut mengajak pembaca ikut merenung tentang hidup yang terus diburu oleh waktu.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kesadaran diri sebelum waktu habis. Puisi ini seolah mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar lewat, tetapi harus dijalani dengan tanggung jawab, karena setiap tindakan akan meninggalkan jejak. Penyair mendorong pembaca untuk tidak menunda refleksi dan perbaikan diri, sebab “karcis” hidup jumlahnya terbatas.
Puisi "Dengan Selembar Karcis" karya Hadi Utomo merupakan refleksi mendalam tentang kefanaan manusia. Dengan bahasa simbolik dan citraan yang kuat, puisi ini mengajak pembaca menengok ulang perjalanan hidupnya sendiri, sebelum seluruh “karcis” itu habis tanpa sempat benar-benar dimaknai.
