Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dermaga (Karya Tri Astoto Kodarie)

Puisi "Dermaga" karya Tri Astoto Kodarie adalah sajak yang tenang namun sarat makna. Melalui
Dermaga

sudah kuhitung dengan jari-jari gemetaran
perahu-perahu yang bersandar
atau buih-buih ombak yang lamban berpacu
padahal pohon-pohon nyiur pun yakin
bahwa sejarah akan kembali dari pelayarannya

sudah kuhitung dengan jari-jari gemetaran
tentang pengembaraan para nelayan
di tengah laut luka
sembunyikan rahasia semesta!

Parepare, 1992

Sumber: Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia, 2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Dermaga" karya Tri Astoto Kodarie menghadirkan ruang perenungan yang sunyi dan penuh ketegangan batin. Dengan larik-larik pendek dan pengulangan yang signifikan, puisi ini memotret dermaga bukan sekadar tempat fisik perahu bersandar, melainkan ruang simbolik tempat ingatan, harapan, dan sejarah saling berjumpa.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian, ingatan, dan keyakinan akan kembalinya sejarah serta makna dari perjalanan hidup. Dermaga menjadi simbol titik temu antara pergi dan pulang, antara luka dan harapan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berdiri di dermaga sambil menghitung perahu-perahu yang bersandar dan buih ombak yang berlalu. Tindakan menghitung dilakukan dengan “jari-jari gemetaran”, menandakan kegelisahan dan ketidakpastian.

Penyair juga merenungkan pengembaraan para nelayan di tengah laut yang dilukiskan sebagai “laut luka”, tempat rahasia semesta disembunyikan. Di tengah kegamangan itu, muncul keyakinan simbolik bahwa sejarah—seperti pelayaran—akan kembali ke dermaga.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa perjalanan hidup, seberapapun penuh luka dan rahasia, akan selalu menyisakan jejak yang kelak kembali pada asalnya. Dermaga tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi ruang refleksi atas pengalaman kolektif manusia, terutama mereka yang hidup dari laut.

Frasa “sejarah akan kembali dari pelayarannya” menyiratkan bahwa masa lalu, pengalaman, dan ingatan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berlayar jauh, menunggu waktu untuk kembali dan dibaca ulang.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, gelisah, dan kontemplatif. Kegamangan penyair berpadu dengan kesenyapan laut dan lambannya buih ombak, menciptakan nuansa penantian yang penuh tekanan batin namun tetap menyimpan harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk bersabar dan percaya bahwa setiap pengembaraan—baik fisik maupun batin—akan menemukan titik pulangnya. Puisi ini juga mengingatkan bahwa di balik luka dan rahasia hidup, selalu ada makna yang menunggu untuk dipahami.

Puisi "Dermaga" karya Tri Astoto Kodarie adalah sajak yang tenang namun sarat makna. Melalui simbol dermaga, laut, dan pelayaran, puisi ini mengajak pembaca merenungi hubungan antara penantian, luka, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan—seberat apa pun—pada akhirnya akan menemukan jalan pulang menuju pemaknaan yang lebih dalam.

Puisi: Dermaga
Puisi: Dermaga
Karya: Tri Astoto Kodarie

Biodata Tri Astoto Kodarie:
  • Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
© Sepenuhnya. All rights reserved.