Puisi: Di Atas Rindu (Karya Pena Senja)

Puisi “Di Atas Rindu” karya Pena Senja bercerita tentang seseorang yang berada dalam situasi menunggu, ketika senja menjadi saksi kegamangan hatinya.

Di Atas Rindu

kala senja telah redam
ada wajah yang mulai sendu
ada senyum yang kelabu
dan hati yang mulai gamang

suara ombak yang beradu
dan petir yang bergemuruh
menandakan akan segara badai
badai yang menyebabkan air mata berurai

ada yang datang
ada pula yang berlalu
bisakah yang datang adalah kamu?
dan yang berlalu adalah jarak yang kini membelenggu?

waktu yang semakin cepat
terasa begitu lambat;
bagi sepasang mata
yang sedang merindu warna favoritnya

Pojok Kamar, 27 Januari 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Di Atas Rindu” karya Pena Senja menghadirkan potret perasaan yang lahir di batas waktu dan jarak. Dengan latar senja dan elemen alam seperti ombak, petir, dan badai, puisi ini menyalurkan emosi rindu yang tak terucap secara lantang, tetapi terasa dalam. Kesederhanaan diksi justru membuat puisi ini dekat dengan pengalaman batin banyak pembaca.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan yang terhalang jarak dan waktu. Selain itu, puisi ini juga memuat tema penantian, ketidakpastian, dan harapan akan pertemuan. Rindu dalam puisi ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga eksistensial—tentang menunggu sesuatu yang belum tentu datang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam situasi menunggu, ketika senja menjadi saksi kegamangan hatinya. Penyair menyaksikan perubahan suasana alam yang sejalan dengan gejolak perasaan: senyum yang kelabu, hati yang gamang, dan rindu yang semakin menguat seiring waktu.

Pertanyaan-pertanyaan retoris dalam puisi ini memperlihatkan harapan agar yang datang adalah sosok yang dirindukan, sementara jaraklah yang seharusnya pergi.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa rindu sering kali membuat waktu kehilangan logikanya—berjalan cepat bagi dunia, namun terasa lambat bagi hati yang menunggu. Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketidakhadiran seseorang bisa menjadi badai emosional, yang meskipun tidak terlihat, dampaknya terasa nyata.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana melankolis, sendu, dan penuh kegelisahan. Nuansa senja yang meredam cahaya menjadi simbol perasaan yang tidak lagi terang, sementara bunyi alam memperkuat kesan ketegangan batin dan kesedihan yang tertahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya kejujuran pada perasaan rindu dan kesabaran dalam menanti. Puisi ini juga menyiratkan bahwa tidak semua perpisahan harus berakhir dengan kepergian orang, terkadang jaraklah yang seharusnya disingkirkan.

Puisi “Di Atas Rindu” karya Pena Senja adalah puisi lirih tentang menunggu di antara ketidakpastian. Dengan memanfaatkan simbol-simbol alam dan suasana senja, puisi ini mengajak pembaca menyelami rasa rindu yang pelan namun terus menekan batin. Sebuah puisi yang sederhana, tetapi menyimpan kedalaman emosi tentang jarak, waktu, dan harapan akan pertemuan.

Pena Senja
Puisi: Di Atas Rindu
Karya: Pena Senja

Biodata Pena Senja:

Pena Senja lahir pada tanggal 20 Februari 2004 di Tangerang. Sejak duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SDN Sukamanah 1, ia sudah gemar mengumpulkan komik dengan berbagai genre, di antaranya ada cerita rakyat, horor, dan jenaka. Ia memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film. Gadis dengan zodiak pisces ini sangat suka dengan warna biru, katanya biru itu bisa menenangkan bisa juga menenggelamkan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.