Analisis Puisi:
Puisi "Di Batas Kota Akhir Tahun" karya Juniarso Ridwan menghadirkan potret kota yang muram dan sesak menjelang penutup tahun. Kota tidak digambarkan sebagai ruang hidup yang hangat, melainkan sebagai simbol keterasingan, konsumerisme, dan kehilangan makna spiritual. Melalui citraan yang keras dan simbolik, puisi ini menyuarakan kegelisahan manusia modern di tengah hiruk-pikuk perayaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan manusia dalam kehidupan kota modern. Kota digambarkan sebagai ruang yang menekan, penuh ilusi, dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai hakiki.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di batas kota pada akhir tahun, menyaksikan reklame raksasa, pusat perbelanjaan, dan arak-arakan perayaan. Di tengah keramaian itu, ia merasa kecil dan tak berarti, diibaratkan sebagai “rayap” yang berdesakan, kehilangan identitas, dan terjebak dalam mekanisme kota.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan urban yang menjual segala hal, termasuk agama dan kesepian. Kota menjadi simbol sistem kapitalistik yang mengubah manusia menjadi makhluk kecil tanpa daya, terperangkap dalam keramaian yang justru melahirkan kehampaan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, sesak, dan ironis. Keramaian barongsai dan reklame tidak menghadirkan kegembiraan, melainkan mempertegas rasa terasing dan kehancuran makna hidup di ruang kota.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan agar manusia tidak larut dalam semu perayaan dan gemerlap kota. Pembaca diajak untuk kembali mempertanyakan nilai hidup dan kesadaran diri di tengah arus konsumerisme dan keramaian massal.
Imaji
Puisi ini kuat dalam imaji visual dan imaji simbolik. Imaji visual tampak pada “reklame raksasa”, “pelataran sebuah mal”, “arak-arakan barongsay”, serta kota yang “menjelma sebuah botol”. Imaji simbolik tersebut membangun gambaran kota sebagai ruang tertutup, panas, dan memerangkap.
Majas
Puisi ini banyak menggunakan majas metafora dan personifikasi. Metafora tampak pada tokoh "aku" yang menjadi “rayap”, serta kota yang menjelma “sebuah botol terbenam dalam bara api”. Personifikasi muncul pada “pohon-pohon tunduk memeluk bumi”, yang menambah kesan muram dan menekan.
Puisi "Di Batas Kota Akhir Tahun" adalah kritik sosial yang tajam dan reflektif. Juniarso Ridwan berhasil memotret ironi kehidupan kota di penghujung tahun—ketika keramaian justru menjelma kesepian, dan manusia kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Puisi: Di Batas Kota Akhir Tahun
Karya: Juniarso Ridwan
Biodata Juniarso Ridwan:
- Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
