Puisi: Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin (Karya Kurnia Effendi)

Puisi “Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin” karya Kurnia Effendi mengajak pembaca merenungkan satu hal penting: sejauh apa manusia bisa lepas dari bayang ..
Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin

Aku dan bayang-bayang berjanji
Untuk tidak saling membayangi

Pada malam pekat aku berlari cepat
Menyeberangi mimpi ke tipi pagi
Bernaung bayang-bayang gebung
Kunanti matahari melewati jalusi

Aku dan bayang-bayang akan bersulang
Mencari waktu untuk saling menghilang

Saat matahari mencapai titik kulminasi
aku menari-nari tanpa mengangkat kaki
Bayanganku kecewa ditipu arah cahaya
Kusembunyikan di bawah telapak kaki

Bayang-bayang pun menghampiri petang
Sejak itu aku tak lagi bisa dipandang orang

Jakarta, 2018

Analisis Puisi:

Puisi “Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin” karya Kurnia Effendi merupakan puisi reflektif yang memperlihatkan dialog batin antara tokoh "aku" dan bayang-bayangnya sendiri. Judul puisi ini secara eksplisit memberi isyarat intertekstual pada sosok Joko Pinurbo (Jokpin), penyair yang dikenal dengan gaya ironis, simbol tubuh, dan permainan makna antara yang nyata dan yang tak kasatmata. Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai penghormatan sekaligus perenungan eksistensial di bawah pengaruh estetika Jokpin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dan hubungan manusia dengan sisi dirinya yang tersembunyi. Bayang-bayang menjadi simbol identitas, kesadaran, sekaligus beban yang selalu mengikuti manusia. Tema lain yang mengemuka adalah eksistensi, keterlihatan dan ketakterlihatan, serta upaya menghilang dari sorotan.

Puisi ini bercerita tentang tokoh "aku" yang menjalin relasi unik dengan bayang-bayangnya. Keduanya bahkan “berjanji untuk tidak saling membayangi”, sebuah paradoks yang sejak awal menandai konflik batin. Tokoh "aku" bergerak dari malam, pagi, siang (titik kulminasi), hingga petang—sebuah siklus waktu yang merepresentasikan perjalanan kesadaran.

Dalam proses itu, tokoh "aku" berusaha mengelabui bayangannya, menyembunyikannya, bahkan berharap bisa saling menghilang, hingga akhirnya mencapai kondisi di mana ia “tak lagi bisa dipandang orang”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan keinginan manusia untuk lepas dari identitas yang melekat padanya—baik identitas sosial, sejarah personal, maupun pengaruh tokoh besar (dalam hal ini Jokpin). Bayang-bayang dapat dibaca sebagai simbol ketenaran, jejak masa lalu, atau bahkan pengaruh estetik yang sulit dilepaskan.

Keinginan “saling menghilang” menyiratkan hasrat akan kebebasan total: bebas dari penilaian, pengaruh, dan ekspektasi. Namun, puisi ini juga menunjukkan bahwa penghilangan tersebut tidak pernah sepenuhnya berhasil.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung kontemplatif dan ironis. Ada kesan bermain-main dengan absurditas, tetapi di balik itu tersimpan kegelisahan eksistensial. Perpindahan waktu dari malam ke petang menciptakan nuansa sunyi dan reflektif, seolah tokoh "aku" terus berbicara dengan dirinya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari bayang-bayangnya—baik itu identitas, pengaruh, maupun kesadaran diri. Namun, upaya memahami dan berdamai dengan bayang-bayang tersebut justru menjadi bagian penting dari proses menjadi diri sendiri.

Puisi ini juga dapat dibaca sebagai pesan tentang kerendahan hati di bawah pengaruh tokoh besar: berada “di bawah bayang-bayang” bukan selalu tentang kalah, tetapi tentang kesadaran posisi.

Puisi “Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin” karya Kurnia Effendi merupakan karya yang cerdas, reflektif, dan kaya lapisan makna. Dengan memanfaatkan simbol bayang-bayang dan permainan cahaya, puisi ini tidak hanya berbicara tentang identitas personal, tetapi juga tentang posisi seorang penyair di bawah pengaruh tradisi dan tokoh besar. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan satu hal penting: sejauh apa manusia bisa lepas dari bayang-bayangnya sendiri, dan apakah menghilang benar-benar berarti bebas.

Kurnia Effendi
Puisi: Di Bawah Bayang-Bayang Jokpin
Karya: Kurnia Effendi

Biodata Kurnia Effendi:
© Sepenuhnya. All rights reserved.