- Lhok Geulumpang: nama kawasan di pantai Aceh Barat , pernah jadi lokasi pesta budaya regional ASEAN, semasa bupati (alm.) T. Rosman, tahun 1993.
- Hok Canton: nama kapal dagang asing yang pernah ditawan oleh Teuku Umar pada masa penjajahan Belanda.
Analisis Puisi:
Puisi "Di Bawah Panorama Lhok Geulumpang" karya Doel CP Allisah menghadirkan pertemuan antara ingatan personal, ruang geografis Aceh Barat, dan lapisan sejarah yang samar namun bermakna. Lhok Geulumpang tidak sekadar menjadi latar, melainkan lanskap emosional tempat kenangan, kerinduan, dan kegamangan berkelindan. Dengan bahasa yang lirih dan citraan alam yang lembut, puisi ini mengajak pembaca menyelami hubungan antara manusia, ingatan, dan sejarah yang perlahan memudar.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan ingatan yang terikat pada ruang—baik ruang alam maupun ruang sejarah. Kerinduan tersebut bukan hanya pada sosok “kau”, tetapi juga pada suasana, peristiwa, dan masa yang tak lagi utuh. Alam, waktu, dan kenangan hadir sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang pertemuan dan kebersamaan di masa lalu, ketika jarak memisahkan dan hanya ingatan yang tersisa. Lhok Geulumpang tampil sebagai lanskap kenangan, sementara Hok Canton—kapal dagang asing yang pernah ditawan Teuku Umar—menjadi simbol ruang pertemuan rahasia, tempat sejarah dan cinta personal bersilangan. Adegan sederhana seperti minum kopi pagi memperkuat kesan intim dan manusiawi dari kerinduan itu.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan akan hilangnya jejak: hilangnya suara, nyanyian, dan kenangan jika alam (bukit) luruh dan waktu terus berjalan. “Bukit yang luruh” dapat dibaca sebagai metafora runtuhnya ingatan kolektif, tradisi, atau sejarah lokal. Ketika itu terjadi, bukan hanya alam yang hilang, tetapi juga suara manusia dan makna yang pernah hidup di dalamnya.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana dalam puisi yang melankolis dan hening. Nuansa petang, sepoi angin laut, bisikan dingin, serta bayangan samar membangun atmosfer sunyi, seolah pembaca diajak berdiri di antara kenangan dan kehilangan, di tepi waktu yang tak lagi pasti.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Secara implisit, amanat / pesan yang disampaikan puisi ini mengingatkan pentingnya merawat ingatan—baik ingatan personal maupun sejarah kolektif. Ketika ruang-ruang bermakna dibiarkan luruh, maka suara, cerita, dan identitas ikut menghilang. Puisi ini menjadi semacam ajakan untuk tidak sepenuhnya menyerahkan kenangan kepada waktu.
Puisi "Di Bawah Panorama Lhok Geulumpang" akhirnya dapat dibaca sebagai catatan lirih tentang Meulaboh dan Aceh Barat: sebuah ruang yang menyimpan sejarah, cinta, dan kehilangan. Doel CP Allisah menulisnya dengan nada tenang, seolah menyadari bahwa yang paling rapuh dari manusia bukanlah jarak, melainkan ingatan yang perlahan luruh seperti bukit dalam hujan.
Karya: Doel CP Allisah