Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Di Jalan Ini (Karya Mahdi Idris)

Puisi "Di Jalan Ini" karya Mahdi Idris menghadirkan suatu gambaran indah dan melankolis tentang cinta, kehilangan, dan kenangan.
Di Jalan Ini

Di jalan ini,
aku masih mendengar dendang kekasih
di bawah langit sedih dan membiru
bergumul seribu tetes airmata di pucuk cemara
lalu ia pergi menangisi diri di tepi waktu.

Malam-malam yang lain
ia datang lagi menjenguk rindu padaku
seusai ritual hujan yang gigilkan tubuh.

Aku melihat puluhan mata di keningnya
mengerjap tanya untuk kuberi jawab
pada helai rambut yang terjuntai
di sepanjang jalan ini
jalan yang telah kurambah sekian kali.

Sebagai kekasih,
ia katakan lagi nyanyi hujan dan kemarau
berdesir lembut di bawah sengat matahari.

Jalan ini,
kutunggu ia menjemput malamnya
di bawah purnama.

2010

Analisis Puisi:

Puisi "Di Jalan Ini" karya Mahdi Idris adalah suatu perjalanan melalui kenangan dan nostalgia, membingkai pengalaman seorang kekasih yang hadir dan pergi di jalan tertentu.

Lanskap Emosional: Puisi ini membentuk lanskap emosional yang intens, diwarnai oleh sentuhan keindahan dan kepedihan. Penggunaan kata-kata seperti "langit sedih dan membiru," "dendang kekasih," dan "nyanyi hujan dan kemarau" menciptakan suasana perasaan yang mendalam.

Simbolisme Alam: Alam digunakan sebagai simbolisme yang kaya makna. Airmata di pucuk cemara, langit sedih, dan ritual hujan memberikan dimensi kealamian pada pengalaman emosional dan kehilangan. Alam berfungsi sebagai mitra perasaan dan pengekspresian rasa kehilangan.

Ritual Hujan: Penggunaan istilah "ritual hujan" menarik perhatian, menciptakan gambaran proses penyucian atau pemulihan melalui air hujan. Ini bisa diartikan sebagai simbol transformasi atau kesempatan untuk memulai kembali setelah kepergian sang kekasih.

Waktu Sebagai Penanda: Waktu hadir sebagai elemen penting dalam puisi ini. Kedatangan dan kepergian sang kekasih disematkan pada malam-malam tertentu dan ritual hujan. Waktu menciptakan struktur naratif yang menambah nuansa dramatis dan keabadian dalam kenangan.

Rasa Penantian dan Harapan: Puisi ini menciptakan atmosfer penantian dan harapan. Kata-kata seperti "kutunggu ia" dan "kutunggu malamnya" menggambarkan ketidakpastian dan kerinduan akan kedatangan sang kekasih di malam purnama.

Perjalanan yang Dibingkai: Puisi ini membahas sebuah perjalanan, bukan hanya fisik di jalan konkret, tetapi juga perjalanan emosional dan rohaniah melalui kenangan dan kehilangan.

Kesetiaan dan Kekasih yang Menyapa: Meskipun kekasih pergi, namun kesetiaan dan rindu masih hadir. Sang kekasih tetap "menyapa" dan memberikan nyanyian hujan dan kemarau, menciptakan suatu kesinambungan hubungan meskipun dalam bentuk kenangan.

Puisi "Di Jalan Ini" menghadirkan suatu gambaran indah dan melankolis tentang cinta, kehilangan, dan kenangan. Penggunaan alam, waktu, dan perasaan penantian memberikan kedalaman emosional pada puisi ini, membiarkannya menjadi sebuah ungkapan yang menggugah perasaan pembaca.

Mahdi Idris
Puisi: Di Jalan Ini
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.