Puisi: Di Masjid Besar (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi "Di Masjid Besar" karya Asep S. Sambodja mengingatkan bahwa hakikat manusia bukan terletak pada bentuk luarnya, melainkan pada relasinya ...
Di Masjid Besar

apakah bunga
bila tiada harum

apakah tiram
tanpa mutiara di dalamnya

apakah aku
tanpa Kau dalam getar nadiku

Sumber: Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Masjid Besar" karya Asep S. Sambodja merupakan puisi pendek dengan struktur sangat ringkas, namun menyimpan kedalaman makna spiritual yang kuat. Dengan hanya tiga pertanyaan retoris, penyair mengajak pembaca merenungkan relasi antara hakikat, esensi, dan keberadaan manusia di hadapan Tuhan. Kesederhanaan bentuk justru menjadi kekuatan utama puisi ini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketauhidan dan pencarian makna keberadaan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Puisi ini berbicara tentang esensi hidup: bahwa segala sesuatu kehilangan makna ketika terpisah dari inti atau tujuan sejatinya, sebagaimana manusia tanpa kehadiran Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang perenungan batin seseorang di ruang sakral—yang disiratkan melalui judul "Di Masjid Besar". Di tempat ibadah tersebut, penyair mempertanyakan hakikat dirinya dengan membandingkan dirinya pada bunga dan tiram. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk dijawab secara literal, melainkan sebagai refleksi eksistensial.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa nilai dan identitas sejati hanya ada ketika sesuatu terhubung dengan sumber maknanya. Bunga tanpa harum hanyalah bentuk kosong; tiram tanpa mutiara kehilangan keistimewaannya; manusia tanpa Tuhan kehilangan arah hidup. Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa spiritualitas bukan tambahan, melainkan inti dari keberadaan manusia.

Suasana dalam puisi

Puisi ini memancarkan suasana dalam puisi yang hening, khusyuk, dan kontemplatif. Nada bertanya yang lembut menciptakan atmosfer perenungan yang dalam, sejalan dengan ruang masjid sebagai tempat diam, doa, dan kesadaran diri.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menyadari ketergantungan manusia kepada Tuhan. Manusia tidak cukup hanya hadir secara fisik atau sosial; tanpa kesadaran ilahiah, hidup menjadi kosong dan kehilangan makna terdalamnya.

Puisi "Di Masjid Besar" adalah puisi yang sederhana secara bahasa, namun mendalam secara makna. Asep S. Sambodja berhasil menghadirkan refleksi ketuhanan tanpa khotbah, tanpa penjelasan panjang, melainkan melalui pertanyaan-pertanyaan sunyi yang justru menggugah kesadaran pembacanya. Puisi ini mengingatkan bahwa hakikat manusia bukan terletak pada bentuk luarnya, melainkan pada relasinya dengan Yang Maha Ada.

Asep S. Sambodja
Puisi: Di Masjid Besar
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.