Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Di Sebuah Tanjung (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Di Sebuah Tanjung” karya Hijaz Yamani bercerita tentang seorang lelaki tua yang hidup menyendiri di sebuah tanjung, kemungkinan sebagai ...
Di Sebuah Tanjung

sebuah tanjung – dataran pasir putih-putih
ujungnya keris ombak yang mendidih
matahari senja terkaca
kerdip mercu yang menyala

angin dan dataran berciuman, sayang
menggigir nafas lelaki tua sepi sendiri atas menara
tanah lahir dikuburnya di jauhan
rindunya, rindu yang terkubur dalam-dalam dalam laut

ah, sepinya daerah ini
tanahnya yang lesih
dunia terkurung langit yang bersilir
angin dan laut menari, tapi
lelaki tua merasa kawan sekali
setia ia – seperti warganya serasa terkubur dalam rindu

1957

Sumber: Tanah Huma (1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Di Sebuah Tanjung” karya Hijaz Yamani menghadirkan lanskap alam pesisir sebagai ruang kontemplasi batin. Tanjung, laut, angin, dan mercu suar tidak hanya berfungsi sebagai latar fisik, tetapi juga menjadi simbol keterasingan, ingatan, dan rindu yang mengendap dalam diri manusia. Melalui bahasa yang lirih dan visual yang kuat, puisi ini menggambarkan kesunyian yang perlahan berubah menjadi perasaan mendalam tentang hidup dan keterikatan pada tanah asal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian dan kerinduan terhadap tanah kelahiran. Selain itu, puisi ini juga memuat tema tentang keterasingan manusia di tengah bentang alam yang luas serta hubungan emosional antara manusia dan ruang tempat ia berasal.

Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki tua yang hidup menyendiri di sebuah tanjung, kemungkinan sebagai penjaga mercu suar. Ia berada jauh dari tanah lahirnya, sementara rindu terhadap kampung halaman dan masa lalu terasa terkubur dalam-dalam, seperti laut yang mengelilinginya. Alam di sekitarnya tampak hidup dan bergerak, namun justru menegaskan kesendirian tokoh tersebut.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keterpisahan dari tanah asal dapat melahirkan kesepian yang mendalam, terutama ketika usia menua dan kehidupan semakin sunyi. Rindu yang “terkubur dalam laut” menyiratkan kenangan dan ikatan batin yang tidak pernah benar-benar hilang, meskipun waktu dan jarak memisahkan. Puisi ini juga menyentuh gagasan tentang manusia yang setia pada tugas dan tempat, meski harus mengorbankan kebersamaan dan kebahagiaan personal.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi didominasi oleh sunyi, lirih, dan melankolis. Keheningan tanjung, senja, dan hembusan angin memperkuat perasaan sepi yang dialami tokoh lelaki tua, sekaligus menghadirkan nuansa pasrah dan kesetiaan yang tenang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya memahami makna kesetiaan dan pengorbanan dalam hidup. Puisi ini juga mengingatkan bahwa rindu dan kenangan terhadap tanah kelahiran adalah bagian dari identitas manusia yang tidak mudah terhapus, sekalipun hidup harus dijalani dalam kesendirian.

Puisi "Di Sebuah Tanjung" merupakan puisi yang kuat dalam penggambaran suasana dan perasaan. Hijaz Yamani berhasil memadukan lanskap alam dengan pergulatan batin manusia, sehingga tanjung tidak hanya menjadi lokasi geografis, tetapi juga ruang batin tempat rindu, kesepian, dan kesetiaan saling berkelindan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti pulang, keterikatan pada tanah asal, dan harga yang harus dibayar oleh kesetiaan.

Hijaz Yamani
Puisi: Di Sebuah Tanjung
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.