Analisis Puisi:
Puisi “Diam Mawar” karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi singkat yang sarat nuansa spiritual dan perenungan batin. Dengan bahasa yang tenang dan simbolik, penyair mengajak pembaca merenungi waktu, kefanaan, dan sikap pasrah manusia di hadapan Yang Ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepasrahan spiritual dan keutuhan cinta ilahi. Puisi menampilkan relasi manusia dengan Tuhan melalui kesadaran akan waktu yang terus berlalu dan ruang batin yang dikosongkan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan waktu—siang dan malam yang datang dan pergi, jam-jam yang tak kembali—serta dampaknya pada ruang batin aku-lirik. Dalam kekosongan itu, mawar bersujud dan memilih diam sebagai bentuk penyerahan diri kepada cinta Tuhan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa dalam keheningan dan pengosongan diri, manusia justru menemukan keutuhan. Diam bukanlah ketiadaan, melainkan jalan menuju penyatuan dengan cinta ilahi yang menyempurnakan jiwa.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa hening, khusyuk, dan kontemplatif. Irama larik yang repetitif menegaskan aliran waktu yang sunyi dan membawa pembaca ke ruang batin yang tenang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk belajar berhenti, diam, dan berserah. Di tengah arus waktu yang tak kembali, manusia diajak mengosongkan diri agar dapat diutuhan oleh cinta Tuhan.
Puisi “Diam Mawar” karya Abdul Wachid B. S. menegaskan bahwa keheningan dapat menjadi bahasa paling dalam antara manusia dan Tuhan. Melalui simbol waktu, ruang, dan mawar, puisi ini menghadirkan refleksi lembut tentang kepasrahan, cinta, dan keutuhan batin yang hanya dapat dicapai lewat diam.
Karya: Abdul Wachid B. S.