Doa untuk Hari Esok Kami
Tuhan,
Tunjukkanlah kepada kami
Apa yang harus kami ucapkan
Di dalam doa-doa kami
Betapa besar kerinduan kami
Untuk bersujud di kaki-Mu
Untuk rebah di pangkuan-Mu
Sambil menumpahkan tangis dan derita kami
Tetapi kata-kata tak bisa kami rangkai Kalimat demi kalimat makin kabur maknanya
Sedang mulut kami seperti dikunci
Oleh pikiran-pikiran yang buntu dan perasaan yang mati
Tuhan, tunjukkanlah garis-garis
yang membedakan seribu warna kehidupan kami
Tumbuhkanlah mata yang bening
Dalam pikiran, perasaan dan seluruh jiwa kami
Sebab tidak tahu lagi
Apa yang baik bagi hari esok kami
Sehabis bumi ini kami porak-porandakan sendiri
Sehabis kami abai terhadap kasih-Mu yang abadi
Tuhan,
Tamparlah mulut kami
Agar bangkit dari rendahnya mutu kehidupan kami
Dan berusaha melawan timpangnya peradaban kami
Tuhan,
Tuntunlah kaki-kaki kami
Sebab ia tak bisa dan tak tahu ke mana akan melangkah
Tanpa izin dan petunjuk-Mu
Tuhan,
Bimbinglah tangan kami
Sebab tak satu tangan pun mengulur dengan benar
Jika tidak dengan perintah dan cahaya-Mu
Tuhan, kendalikan kereta kami
Sebab hanya Engkaulah Yang Mahatahu
Di mana letak rumah-Mu yang kami tuju
Bandung, 1977
Sumber: Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (Tifa Sastra, 1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Doa untuk Hari Esok Kami” karya Emha Ainun Nadjib merupakan ungkapan spiritual yang lahir dari kegelisahan manusia modern. Puisi ini tampil sebagai doa kolektif, bukan doa individual, yang memotret kegamangan, kelelahan batin, serta kerinduan manusia untuk kembali menemukan arah hidup di tengah kerusakan moral dan peradaban.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan spiritual dan permohonan petunjuk Tuhan di tengah krisis kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesadaran akan kesalahan manusia serta pencarian makna hidup untuk masa depan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kami” yang datang kepada Tuhan dengan perasaan bingung, lelah, dan tak berdaya. Mereka ingin berdoa, bersujud, dan mengadu, tetapi kehilangan kata-kata. “Kami” menyadari bahwa bumi telah dirusak oleh tangan sendiri dan kasih Tuhan sering diabaikan. Dalam keadaan itu, mereka memohon bimbingan Tuhan agar dapat melangkah menuju hari esok dengan benar.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa manusia telah sampai pada titik kebuntuan moral dan spiritual. Ketidakmampuan merangkai kata dalam doa melambangkan krisis nurani dan matinya kepekaan batin. Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap peradaban yang timpang, di mana kemajuan material tidak diimbangi dengan kebijaksanaan dan kasih.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini khusyuk, muram, dan penuh penyesalan, tetapi sekaligus sarat harapan. Kesedihan dan kegelisahan bercampur dengan keinginan kuat untuk bangkit dan berubah melalui pertolongan Tuhan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan, serta kesadaran bahwa tanpa petunjuk Ilahi, manusia mudah tersesat dan merusak kehidupannya sendiri. Puisi ini mengajak pembaca untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki mutu kehidupan demi masa depan yang lebih bermakna.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti “kereta kami” yang melambangkan perjalanan hidup manusia.
- Repetisi, pada kata “Tuhan,” di awal bait untuk menegaskan nuansa doa dan ketergantungan total kepada-Nya.
Puisi “Doa untuk Hari Esok Kami” adalah puisi reflektif yang mengajak pembaca menengok kembali hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Emha Ainun Nadjib tidak hanya menghadirkan doa, tetapi juga kritik sosial dan peradaban, sekaligus harapan agar manusia diberi kekuatan untuk menata kembali kehidupan menuju hari esok yang lebih bermartabat.
Karya: Emha Ainun Nadjib
Biodata Emha Ainun Nadjib:
- Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
