Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Duka Manis (Karya Hasan Aspahani)

Puisi “Duka Manis” karya Hasan Aspahani menghadirkan lirisisme yang kental, berpadu dengan suasana perpisahan yang lembut namun menyayat.
Duka Manis

Sweet, so would I,
Yet I should kill thee with much cherishing.
Good night, good night! Parting ia such sweet sorrow,
That I shall say good night till it be morrow.

Juliet to Romeo

KARENA disentuh hati, menangis piano ini
seperti ilustrasi bagi adegan perpisahan

aku Kekasih menegaskan janji, sekali lagi
mengecupi kuncup jemari di pucuk tangan

O, harap tak habis, O, duka amat manis

Karena dipeluk hati, merintih biola ini
seperti mengalir air mata jadi sendu suara

kau Kekasih mengukur jarak ke batas mimpi,
menaksir seberapa jauh yang mampu tertempuh

O, ingin tak tertepis, O, duka amat manis

Sumber: Duka Manis (DIVA Press, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Duka Manis” karya Hasan Aspahani menghadirkan lirisisme yang kental, berpadu dengan suasana perpisahan yang lembut namun menyayat. Puisi ini secara implisit beresonansi dengan gagasan sweet sorrow—duka yang justru terasa manis karena lahir dari cinta yang mendalam. Musik, sentuhan, dan janji menjadi medium utama dalam mengungkap perasaan tersebut.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perpisahan dalam cinta yang melahirkan duka sekaligus keindahan. Kesedihan tidak hadir sebagai luka semata, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari kasih yang tulus.

Puisi ini bercerita tentang dua insan yang berada dalam momen perpisahan. Tokoh "Aku" dan Kekasih saling menegaskan janji, mengukur jarak, dan menyadari keterbatasan yang harus dihadapi. Perpisahan tersebut diiringi oleh musik—piano dan biola—yang seolah ikut menangis dan merintih, memperkuat kesan dramatik dan emosional.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa duka tidak selalu identik dengan kehancuran. Duka bisa menjadi manis ketika lahir dari cinta yang jujur dan penuh harap. Perpisahan justru memperlihatkan betapa dalamnya rasa memiliki dan betapa kuatnya ikatan batin, meskipun jarak dan waktu memisahkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa melankolis, lirih, dan romantis. Ada kesedihan yang mengalun pelan, namun tidak meledak-ledak. Kesedihan tersebut dibungkus dengan kelembutan sentuhan, musik, dan ungkapan harap, sehingga terasa intim dan puitis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa cinta sejati tidak selalu ditandai oleh kebersamaan tanpa jarak, melainkan oleh kemampuan menerima perpisahan dengan keikhlasan dan harapan. Duka yang lahir dari cinta bukan sesuatu yang harus ditolak, karena di dalamnya tersimpan keindahan dan makna.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji auditif dan imaji visual. Bunyi piano yang “menangis” dan biola yang “merintih” menciptakan suasana sendu yang dapat didengar secara imajiner. Sementara itu, imaji visual hadir melalui adegan mengecup jemari, jarak ke batas mimpi, dan ilustrasi perpisahan yang terasa seperti potongan adegan film atau panggung drama.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas personifikasi, seperti piano yang menangis dan biola yang merintih. Selain itu, terdapat majas oksimoron pada frasa “duka amat manis”, yang mempertemukan dua perasaan bertentangan: sedih dan manis. Repetisi seruan “O,” juga berfungsi sebagai penekanan emosional yang memperkuat kesan lirih.

Puisi “Duka Manis” karya Hasan Aspahani adalah puisi perpisahan yang elegan dan musikal. Kesedihan tidak disajikan sebagai ratapan keras, melainkan sebagai alunan lembut yang justru memperindah rasa kehilangan. Puisi ini menegaskan bahwa dalam cinta, duka dan manis sering kali berjalan beriringan—menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Hasan Aspahani
Puisi: Duka Manis
Karya: Hasan Aspahani
© Sepenuhnya. All rights reserved.