Analisis Puisi:
Puisi "Elegi Kota" karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan potret kota sebagai ruang sejarah, luka, dan cinta yang saling bertaut. Kota tidak hanya dipahami sebagai tempat fisik, melainkan sebagai tubuh hidup yang menyimpan kelelahan, kenangan, dan denyut kehidupan masyarakat kecil di dalamnya. Dengan bahasa lirih dan padat, puisi ini menjadi ratapan sekaligus pengakuan cinta terhadap kota.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keletihan kota dan kehidupan kaum jelata, disertai relasi emosional antara manusia dan ruang urban. Kota tampil sebagai saksi sejarah sekaligus ladang penderitaan dan harapan yang rapuh.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berhadapan dengan kota tua—kota yang “melumuri wajah” dengan sejarah dan darah. Ia menyaksikan harapan rakyat kecil yang meranggas, kehidupan di kolong jembatan dan gubuk kardus, serta kelelahan kota yang terus mengintai. Namun di balik semua luka itu, penyair tetap menyatakan cinta pada kota.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik sosial terhadap wajah kota yang dibangun di atas penderitaan dan pengorbanan manusia kecil. Kota tumbuh dengan sejarah dan darah, tetapi sering melupakan mereka yang hidup di pinggirannya. Meski demikian, ada ikatan batin yang kuat: kota dicintai bukan karena kemewahannya, melainkan karena ia menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan identitas penyair.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung muram, sendu, dan letih. Nuansa elegi terasa kuat, sejalan dengan gambaran kota yang tua, lelah, dan sarat luka, namun tetap menyisakan kehangatan emosional di ujungnya.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat agar pembaca tidak menutup mata terhadap penderitaan kaum marjinal di kota. Cinta pada kota seharusnya juga berarti kepedulian pada manusia yang hidup dan bertahan di ruang-ruang paling rapuh dari peradaban urban.
Puisi "Elegi Kota" adalah puisi ratapan yang jujur dan penuh empati. Wayan Jengki Sunarta menempatkan kota sebagai ruang konflik antara luka dan cinta, menghadirkan kesadaran bahwa di balik hiruk-pikuk dan sejarah panjang, kota selalu menyimpan kisah manusia kecil yang kerap terabaikan.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
