Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Email dari Tuhanku (Karya Mustiar AR)

Puisi "Email dari Tuhanku" karya Mustiar AR mengajak kita berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya: di tengah dunia yang saling melukai, masihkah ...
Email dari Tuhanku

Kepada hambaku Mustiar AR
hari ini tinggalkan negeri ini
sungguh mereka telah alpa
sungguh mereka saling tikam
sungguh mereka saling bunuh
sungguh mereka saling minum darah
saudara mereka sendiri.

Temui emakmu
yang kini tergolek sakit
Allahu akbar
Allah akbar.

Meulaboh, 18 Desember 2000

Analisis Puisi:

Puisi "Email dari Tuhanku" karya Mustiar AR menghadirkan pertemuan yang unik antara bahasa religius dan simbol modern. Judulnya saja sudah mengundang tafsir: kata email—yang identik dengan komunikasi cepat dan dunia digital—dipadukan dengan figur Tuhan sebagai pengirim pesan. Dari sini, pembaca langsung diarahkan pada refleksi spiritual yang tajam, singkat, tetapi mengguncang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah teguran ilahi terhadap kerusakan moral manusia, khususnya terkait kekerasan, perpecahan, dan hilangnya nilai kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kepulangan, pengasingan, dan panggilan spiritual, di mana Tuhan seolah memerintahkan penyair untuk menjauh dari negeri yang telah kehilangan nurani.

Puisi ini bercerita tentang sebuah pesan langsung dari Tuhan kepada hambanya, Mustiar AR. Pesan tersebut berisi perintah untuk meninggalkan negeri karena manusia di dalamnya telah saling melukai, bahkan membunuh sesama saudara. Di tengah kehancuran sosial itu, Tuhan justru mengarahkan sang hamba untuk menemui ibunya yang sedang sakit, seolah menegaskan bahwa kasih, bakti, dan kemanusiaan masih harus dijaga di tengah dunia yang rusak.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini sangat kuat dan berlapis. Negeri yang ditinggalkan dapat dimaknai sebagai simbol masyarakat atau dunia yang telah kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual. Kekerasan yang digambarkan secara ekstrem—saling tikam, saling bunuh, saling minum darah—menjadi metafora atas kebencian, konflik, dan kebiadaban manusia modern.

Perintah untuk menemui ibu mengandung makna bahwa di tengah kehancuran besar, nilai paling dasar seperti kasih sayang keluarga dan bakti kepada orang tua tetap menjadi jalan keselamatan spiritual. Puisi ini seakan menegaskan bahwa Tuhan hadir bukan hanya dalam retorika besar, tetapi juga dalam tindakan kecil yang manusiawi.

Suasana dalam puisi

Jika ditilik dari larik-lariknya, suasana dalam puisi ini cenderung muram, mencekam, dan penuh keprihatinan. Pengulangan kata sungguh menambah kesan keseriusan dan kepiluan atas kondisi manusia. Namun, pada bagian akhir, suasana bergeser menjadi lebih khusyuk dan sakral melalui seruan Allahu akbar, yang menghadirkan nuansa kepasrahan dan ketundukan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk kembali pada nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Puisi ini mengingatkan bahwa kekerasan dan kebencian hanya akan membawa kehancuran, sementara jalan Tuhan justru sering kali hadir dalam bentuk kepedulian, kasih, dan bakti kepada sesama—terutama kepada orang tua.

Puisi "Email dari Tuhanku" adalah puisi singkat namun sarat makna. Mustiar AR berhasil meramu kritik sosial, renungan spiritual, dan emosi personal dalam larik-larik sederhana tetapi menghantam kesadaran pembaca. Puisi ini mengajak kita berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya: di tengah dunia yang saling melukai, masihkah kita mendengar pesan Tuhan yang paling sunyi—tentang kasih dan kemanusiaan?

Mustiar AR
Puisi: Email dari Tuhanku
Karya: Mustiar AR
© Sepenuhnya. All rights reserved.