Puisi: Engkau (Karya Doel CP Allisah)

Puisi "Engkau" karya Doel CP Allisah bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang terus mempertanyakan batas cintanya kepada “Engkau”, yang ...
Engkau

Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu
langit malam bertabur gemintang
atau ruang maha luas tak bertepi
dari sisi manapun aku, engkau tetap dalam hati
lekat dalam jiwa dan pikiran
lekat dalam dekap
dingin sajadah subuh itu hilang oleh hangat airmata kepasrahan

Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu
rumah kecil dan seluruh kepahitan
atau kesadaran yang terlambat
angin liar yang tak berhenti
ketika rembang petang luruh di haribaan malam
tak jua, dalam lapar dan terik matahari
nikmat terdekap di ujung waktu yang kau takdirkan
tak jua, tiada yang dapat menunda pertemuan ini
engkau dalam dekapku
dan aku kerdil dalam kesempurnaanmu

Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu
engkau dengan kepastian selalu
tetap menerima kepulanganku dalam kesyahduan ramadhan
memutihkan segenap dosa masa lalu

Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu
tak satupun, ya Allah
kecuali lalai dan mengingkari kebenaran-Mu.

Analisis Puisi:

Puisi "Engkau" karya Doel CP Allisah merupakan puisi religius yang dibangun dari pengakuan cinta, kepasrahan, dan kesadaran spiritual seorang hamba kepada Tuhannya. Melalui pengulangan pertanyaan retoris “Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu”, penyair menegaskan bahwa relasi antara manusia dan Tuhan melampaui batas ruang, waktu, penderitaan, bahkan dosa masa lalu. Puisi ini bergerak dari kegelisahan eksistensial menuju kepasrahan total.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta transendental antara manusia dan Tuhan. Cinta yang dimaksud bukan cinta sentimental semata, melainkan cinta spiritual yang menyerap seluruh pengalaman hidup: penderitaan, kesalahan, doa, dan harapan akan pengampunan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang terus mempertanyakan batas cintanya kepada “Engkau”, yang pada akhirnya ditegaskan sebagai Allah. Dalam perjalanan itu, penyair menghadapi berbagai kondisi hidup: kemiskinan (“rumah kecil”), kepahitan, kesadaran yang terlambat, lapar, terik matahari, hingga momen ibadah seperti sujud di sajadah subuh dan kesyahduan Ramadan. Semua pengalaman itu justru memperkuat ikatan cintanya kepada Tuhan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah pengakuan bahwa satu-satunya penghalang dalam hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah penderitaan hidup, jarak, atau waktu, melainkan kelalaian manusia sendiri. Puisi ini juga menyiratkan keyakinan bahwa Tuhan selalu membuka pintu kepulangan bagi hamba-Nya, betapapun kerdil dan penuh dosa manusia tersebut.

Suasana dalam puisi

Puisi Engkau menghadirkan suasana dalam puisi yang khusyuk, lirih, dan penuh kepasrahan. Nada doa terasa kuat, terutama melalui gambaran sujud, air mata, dan Ramadan. Di sisi lain, terdapat suasana haru dan rendah hati ketika penyair mengakui kekerdilannya di hadapan kesempurnaan Tuhan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menjaga kesadaran spiritual dan tidak larut dalam kelalaian. Puisi ini mengingatkan bahwa cinta kepada Tuhan tidak pernah dibatasi oleh keadaan hidup, selama manusia tidak mengingkari kebenaran dan tetap membuka diri untuk kembali.

Puisi "Engkau" adalah puisi doa yang jujur dan emosional. Doel CP Allisah menempatkan manusia sebagai makhluk yang rapuh namun selalu memiliki jalan pulang. Dengan bahasa yang lembut dan penuh pengakuan, puisi ini menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan tidak pernah terhalang oleh dunia, kecuali oleh kelalaian manusia itu sendiri.

Doel CP Allisah
Puisi: Engkau
Karya: Doel CP Allisah
© Sepenuhnya. All rights reserved.