Analisis Puisi:
Puisi "Engkau" karya Doel CP Allisah merupakan puisi religius yang dibangun dari pengakuan cinta, kepasrahan, dan kesadaran spiritual seorang hamba kepada Tuhannya. Melalui pengulangan pertanyaan retoris “Apakah yang bisa membatasi cintaku padamu”, penyair menegaskan bahwa relasi antara manusia dan Tuhan melampaui batas ruang, waktu, penderitaan, bahkan dosa masa lalu. Puisi ini bergerak dari kegelisahan eksistensial menuju kepasrahan total.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta transendental antara manusia dan Tuhan. Cinta yang dimaksud bukan cinta sentimental semata, melainkan cinta spiritual yang menyerap seluruh pengalaman hidup: penderitaan, kesalahan, doa, dan harapan akan pengampunan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang terus mempertanyakan batas cintanya kepada “Engkau”, yang pada akhirnya ditegaskan sebagai Allah. Dalam perjalanan itu, penyair menghadapi berbagai kondisi hidup: kemiskinan (“rumah kecil”), kepahitan, kesadaran yang terlambat, lapar, terik matahari, hingga momen ibadah seperti sujud di sajadah subuh dan kesyahduan Ramadan. Semua pengalaman itu justru memperkuat ikatan cintanya kepada Tuhan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah pengakuan bahwa satu-satunya penghalang dalam hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah penderitaan hidup, jarak, atau waktu, melainkan kelalaian manusia sendiri. Puisi ini juga menyiratkan keyakinan bahwa Tuhan selalu membuka pintu kepulangan bagi hamba-Nya, betapapun kerdil dan penuh dosa manusia tersebut.
Suasana dalam puisi
Puisi Engkau menghadirkan suasana dalam puisi yang khusyuk, lirih, dan penuh kepasrahan. Nada doa terasa kuat, terutama melalui gambaran sujud, air mata, dan Ramadan. Di sisi lain, terdapat suasana haru dan rendah hati ketika penyair mengakui kekerdilannya di hadapan kesempurnaan Tuhan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menjaga kesadaran spiritual dan tidak larut dalam kelalaian. Puisi ini mengingatkan bahwa cinta kepada Tuhan tidak pernah dibatasi oleh keadaan hidup, selama manusia tidak mengingkari kebenaran dan tetap membuka diri untuk kembali.
Puisi "Engkau" adalah puisi doa yang jujur dan emosional. Doel CP Allisah menempatkan manusia sebagai makhluk yang rapuh namun selalu memiliki jalan pulang. Dengan bahasa yang lembut dan penuh pengakuan, puisi ini menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan tidak pernah terhalang oleh dunia, kecuali oleh kelalaian manusia itu sendiri.
Karya: Doel CP Allisah