Galunggung
galunggung, ada di mana puncak kawahmu itu?
sebagian menebal dalam riol, sebagian memadat
di pekarangan, sebagian melekat pada mata, dalam
usus dan paru-paru. Sisanya kekal di langit
Tuhan main bentuk. Mengaduk-ngaduk ruang,
menjotos jam. Meledakkan pekik manusia
manusia? pada ke manakah kalian semua?
matahari hilang, kata orang. Pemandangan hitam
orang-orang gentayangan dalam dandanan maling
sisanya mengeram dalam kamar. Bertelor
jalan panjang, jalan samar, jalan bimbang
mengembara sendirian: "lengang"
1982
Sumber: Horison (November, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Galunggung” menghadirkan pengalaman manusia ketika berhadapan dengan bencana alam yang dahsyat. Gunung Galunggung tidak sekadar tampil sebagai objek geografis, melainkan menjelma simbol kekuatan kosmik yang mengguncang ruang, waktu, dan keberadaan manusia. Dengan bahasa padat dan citraan gelap, Beni Setia merangkum kepanikan, keterasingan, serta kehancuran batin yang menyertai peristiwa letusan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah bencana alam dan kerapuhan manusia di hadapan kekuasaan semesta. Di baliknya, tersirat pula tema ketidakberdayaan, kekacauan sosial, dan kehilangan orientasi hidup ketika tatanan normal runtuh.
Puisi ini bercerita tentang letusan Gunung Galunggung dan dampaknya yang menyebar ke mana-mana: ke saluran air, pekarangan, bahkan ke tubuh manusia. Abu vulkanik digambarkan bukan hanya menutupi ruang fisik, tetapi juga merasuk ke mata, paru-paru, dan kesadaran. Dalam situasi itu, manusia tercerai-berai, gentayangan, bersembunyi, dan kehilangan arah di “jalan panjang, jalan samar, jalan bimbang”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga menyingkap wajah manusia dalam situasi ekstrem. Ketakutan melahirkan kekacauan moral dan sosial: orang-orang “dandanan maling”, bersembunyi, atau saling mencurigai. Selain itu, puisi ini menyiratkan kritik eksistensial: ketika alam murka, manusia mempertanyakan keberadaannya sendiri—“manusia? pada ke manakah kalian semua?”
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung muram, mencekam, dan apokaliptik. Hilangnya matahari, pemandangan hitam, serta gambaran manusia yang gentayangan menciptakan atmosfer ketakutan dan keterasingan yang kuat.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat agar manusia menyadari keterbatasannya di hadapan kekuatan alam dan Tuhan. Kesombongan manusia runtuh ketika berhadapan dengan bencana, sehingga diperlukan kerendahan hati, kewaspadaan, dan kesadaran akan rapuhnya kehidupan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
- Imaji visual: pemandangan hitam, matahari hilang, abu menebal di pekarangan.
- Imaji perabaan dan fisik: abu melekat pada mata, usus, dan paru-paru.
- Imaji gerak: orang-orang gentayangan, mengembara sendirian di jalan samar.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan bencana yang menyeluruh dan menyesakkan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, seperti “Tuhan main bentuk” dan “menjotos jam”, yang memberi kesan kekacauan kosmik.
- Metafora, pada abu yang “kekal di langit” dan manusia yang “bertelor” dalam kamar, melambangkan ketakutan dan keengganan keluar.
- Repetisi, pada frasa “jalan panjang, jalan samar, jalan bimbang” untuk menegaskan kebingungan dan keterasingan.
Puisi “Galunggung” karya Beni Setia adalah potret singkat namun kuat tentang bencana sebagai peristiwa fisik sekaligus spiritual. Melalui bahasa yang gelap dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca merenungkan posisi manusia yang rapuh, tersesat, dan mudah tercerabut ketika alam—dan waktu—seakan kehilangan keseimbangannya.
Profil Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
