Puisi: Gelap (Karya Joshua Igho)

Puisi karya Joshua Igho ini bercerita tentang kegelisahan seseorang dalam memandang dunia yang kehilangan cahaya sejatinya. Cahaya digambarkan ...
Puisi Gelap

Puisi ini puisi gelap
tentang cahaya yang kurampas
dari matahari
tentang pekat malam penuh misteri
sunyi sepanjang waktu
jarum jam hanya sesekali berdetak
dan alunan mantera bergema
mengerak di dinding bisu.

Puisi ini puisi gelap
tentang Tuhan yang terperangkap
dalam jaring kebenaran yang dibangun
atas dasar pembenaran
tentang bidadari kesepian dalam ruang sunyi
menunggu malaikat pulang pesta.

Puisi ini puisi gelap
tentang hidup sekumpulan mata
yang tak pernah berkedip mencari cahaya
mata yang kehabisan ronanya

Puisi ini puisi gelap
tentang surga yang kusulap
menjadi neraka
di saat orang-orang berdiri
mengantri untuk masuk ke dalamnya.

2017

Analisis Puisi:

Puisi "Puisi Gelap" karya Joshua Igho merupakan sajak reflektif yang bernuansa kritik dan kegelisahan eksistensial. Dengan pengulangan frasa “Puisi ini puisi gelap”, penyair menegaskan sejak awal bahwa sajak ini bergerak di wilayah kegelapan batin, keraguan spiritual, dan paradoks kehidupan manusia. Kegelapan dalam puisi ini bukan sekadar absennya cahaya, melainkan simbol kerumitan makna, iman, dan nurani yang terdistorsi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelapan batin manusia dalam menghadapi kebenaran, iman, dan makna hidup. Puisi ini juga mengangkat tema kritik terhadap pemaknaan cahaya, Tuhan, dan surga yang justru dibangun di atas pembenaran semu.

Puisi ini bercerita tentang kegelisahan seseorang dalam memandang dunia yang kehilangan cahaya sejatinya. Cahaya digambarkan bukan sebagai anugerah, melainkan sesuatu yang “dirampas” dari matahari. Waktu berjalan sunyi, jarum jam nyaris tak berdetak, dan mantra-mantra hanya bergema di “dinding bisu”.

Pada bagian berikutnya, puisi ini berbicara tentang Tuhan yang “terperangkap” dalam jaring kebenaran buatan manusia, bidadari yang kesepian, dan malaikat yang absen. Gambaran ini berlanjut pada kehidupan manusia yang diwakili oleh “sekumpulan mata” yang terus mencari cahaya, namun kehilangan rona. Puncaknya, surga disulap menjadi neraka, sementara manusia justru berbondong-bondong mengantre untuk memasukinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap krisis spiritual dan moral manusia modern. Penyair menyiratkan bahwa kebenaran sering kali dibangun di atas pembenaran, bukan kejujuran. Tuhan, surga, dan cahaya kehilangan makna hakikinya karena direduksi oleh tafsir sempit dan kepentingan manusia.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kegelapan bukan semata datang dari luar, melainkan lahir dari kesadaran manusia sendiri—ketika nurani tumpul, iman kehilangan kehangatan, dan cahaya tidak lagi mampu memberi arah.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa muram, sunyi, dan penuh kegelisahan. Nuansa gelap dibangun secara konsisten melalui citra malam, sunyi waktu, ruang bisu, dan kehilangan cahaya. Kesuraman ini tidak meledak-ledak, melainkan dingin dan menekan, seolah pembaca diajak menyelami ruang batin yang kosong dan membeku.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan agar manusia kembali memeriksa kejujuran iman dan makna kebenaran yang diyakini. Puisi ini mengingatkan bahwa ketika cahaya dimanipulasi, surga bisa berubah menjadi neraka, dan Tuhan hanya tinggal nama dalam jaring pembenaran.

Puisi "Puisi Gelap" karya Joshua Igho merupakan sajak kritik dan perenungan yang berani. Dengan simbol-simbol gelap dan paradoks spiritual, puisi ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang keyakinan, kebenaran, dan cahaya yang selama ini dianggap pasti, namun mungkin telah kehilangan makna sejatinya.

Puisi Joshua Igho
Puisi: Puisi Gelap
Karya: Joshua Igho
© Sepenuhnya. All rights reserved.