Gone
(Kepada adikku, Tien)
Melati kecil
sekuntum mungil
kusanjung kupuja-puja
kukenang kusentuh sayang
tapi apa k'mudian?
belum kering bibir dikinang
hanya berbekas dikau 'lah hilang
Senja, 1952
Sumber: Kabar dari Langit (1986)
Analisis Puisi:
Puisi "Gone" karya Djamil Suherman merupakan sajak pendek yang sarat emosi kehilangan. Dengan larik-larik singkat dan bahasa yang sederhana, puisi ini menyingkap perasaan duka mendalam atas kepergian seseorang yang sangat dekat dan dicintai. Dedikasi kepada sang adik memperkuat kesan personal sekaligus universal tentang rapuhnya kebahagiaan dan cepatnya kehilangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan duka atas kepergian orang terkasih. Puisi ini juga mengandung tema kefanaan hidup, di mana kebahagiaan dan harapan dapat sirna dalam waktu yang sangat singkat.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang sosok yang dicintai, diibaratkan sebagai “melati kecil” yang mungil, indah, dan layak disanjung. Sosok tersebut dipuja, disentuh dengan kasih, dan dikenang dengan penuh sayang.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sebelum “kering bibir dikinang”—sebuah simbol harapan atau janji yang baru terucap—sosok yang dicintai itu telah “hilang”. Peristiwa ini menandai keterputusan mendadak antara harapan dan kenyataan pahit.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik sunyi terhadap ketidakadilan waktu dan nasib. Kehilangan digambarkan terjadi terlalu cepat, bahkan sebelum rasa bahagia sempat utuh dirasakan.
Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa cinta dan kasih tidak selalu berbanding lurus dengan waktu kebersamaan. Seseorang bisa begitu dicintai, dipuja, dan diharapkan, namun kehadirannya hanya meninggalkan bekas, bukan keberlanjutan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa lirih, pilu, dan penuh keheningan duka. Keindahan metafora di awal puisi berangsur berubah menjadi kesedihan mendalam pada larik penutup, menciptakan kontras emosional yang kuat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari betapa rapuhnya kehidupan dan berharganya kehadiran orang-orang terkasih. Puisi ini mengingatkan agar kasih sayang tidak ditunda, karena kehilangan bisa datang tanpa peringatan.
Puisi "Gone" karya Djamil Suherman adalah ungkapan duka yang sederhana namun menggetarkan. Melalui metafora bunga dan larik yang singkat, puisi ini berhasil menghadirkan kenyataan pahit tentang kehilangan yang datang terlalu cepat, meninggalkan luka yang hanya bisa dikenang dalam diam dan kasih.
Puisi: Gone
Karya: Djamil Suherman
Biodata Djamil Suherman:
- Djamil Suherman lahir di Surabaya, pada tanggal 24 April 1924.
- Djamil Suherman meninggal dunia di Bandung, pada tanggal 30 November 1985 (pada usia 61 tahun).
- Djamil Suherman adalah salah satu sastrawan angkatan 1966-1970-an.
