Sumber: Kerygma & Martyria (2004)
Analisis Puisi:
Puisi “Gordel Van Smaragd” karya Remy Sylado merupakan puisi pendek yang sarat makna historis dan ideologis. Istilah Gordel van Smaragd—sebutan kolonial bagi kepulauan Nusantara—digunakan penyair untuk menegaskan kembali makna tanah air sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga, bukan sekadar objek kekuasaan dan kemewahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta tanah air dan kritik terhadap kekuasaan. Puisi ini menyoroti nilai sejati bangsa yang tidak terletak pada simbol kemegahan, melainkan pada tanah dan kehidupan rakyatnya.
Puisi ini bercerita tentang zamrud yang dapat dicungkil dari mahkota raja dan dibuang tanpa penyesalan. Namun warna zamrud itu tetap hidup dalam ingatan dan pujian, lalu dihadapkan dengan gambaran konkret tanah air: sawah, ladang, dan hutan yang dijaga dengan penuh tanggung jawab spiritual.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap elite atau penguasa yang memperlakukan kekayaan negeri sebagai hiasan yang bisa dicabut dan dibuang. Sebaliknya, rakyat atau aku-lirik memandang tanah air sebagai amanah ilahi yang wajib dijaga, bukan dieksploitasi.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana tegas, reflektif, dan penuh tekad. Nada larik terakhir memberikan kesan sumpah atau ikrar moral yang kuat.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah seruan untuk menjaga tanah air dengan kesadaran moral dan spiritual. Kekayaan alam bukan milik penguasa semata, melainkan titipan yang harus dipelihara demi generasi dan nilai kemanusiaan.
Puisi “Gordel Van Smaragd” karya Remy Sylado menampilkan sikap puitik yang lugas namun tajam. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, puisi ini menegaskan bahwa tanah air bukan perhiasan kekuasaan, melainkan ruang hidup yang harus dijaga dengan tanggung jawab, iman, dan keberpihakan pada kehidupan.
Karya: Remy Sylado
