Analisis Puisi:
Puisi “Harum Mawar” menghadirkan perenungan lirih tentang keikhlasan, waktu, dan makna memberi tanpa pamrih. Dengan bahasa yang tenang dan simbolik, Abdul Wachid B. S. menjadikan setangkai mawar sebagai pusat kontemplasi, bukan sekadar bunga, melainkan lambang sikap hidup yang berserah dan tetap memberi meski tak selalu terlihat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keikhlasan dan keteguhan dalam memberi makna hidup. Puisi ini juga menyentuh tema spiritualitas, kesabaran, dan hubungan antara makhluk dengan waktu serta Yang Mahatinggi.
Puisi ini bercerita tentang setangkai mawar yang menengadah ke langit, diam namun setia “merenangi waktu”. Mawar tersebut menerima gerimis yang turun dari ketinggian dan menyadari bahwa bunganya tidak harus selalu mekar setiap hari. Meski demikian, harum yang dimilikinya tetap menyebar, dari taman hingga neraka, sebagai bentuk pemberian yang melampaui ruang dan keadaan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa nilai sebuah keberadaan tidak selalu diukur dari penampakan luar atau kemekaran yang terus-menerus. Seperti mawar, manusia dapat memberi makna dan manfaat meski dalam keterbatasan. Ungkapan “harumku memberi dari taman hingga neraka” menandakan daya pengaruh kebaikan yang mampu menjangkau segala ruang, bahkan yang paling gelap sekalipun.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, khusyuk, dan kontemplatif. Kesenyapan yang dihadirkan membuat puisi ini seperti doa lirih yang mengajak pembaca berhenti sejenak dan merenungi makna keberadaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tetap memberi kebaikan dengan ikhlas, tanpa menuntut pengakuan atau hasil yang kasat mata. Keikhlasan, sebagaimana ditunjukkan oleh mawar, justru melengkapi “daunan pagi” kehidupan, menghadirkan keseimbangan dan keteduhan batin.
Puisi “Harum Mawar” adalah puisi yang lembut namun dalam. Abdul Wachid B. S. menyampaikan pesan bahwa keikhlasan dan kebaikan sejati tidak selalu hadir dalam kemegahan, melainkan dalam diam, kesabaran, dan kesediaan memberi makna bagi kehidupan di sekelilingnya.
Karya: Abdul Wachid B. S.