Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Harum Mawar (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi “Harum Mawar” bercerita tentang setangkai mawar yang menengadah ke langit, diam namun setia “merenangi waktu”. Mawar tersebut menerima ...
Harum Mawar

Setangkai mawar menengadah langit
dalam diamnya ia renangi waktu
sebelum tanggal menemu juga akhirnya
gerimis menetesi dari ketinggian
dan ia mengerti
"tidak pun kembangku menyentuh
semua hari, berkabar udara
harumku memberi
dari taman hingga neraka"
sujudnya mengekal di ruang hati
melengkapkan daunan pagi.

1995

Analisis Puisi:

Puisi “Harum Mawar” menghadirkan perenungan lirih tentang keikhlasan, waktu, dan makna memberi tanpa pamrih. Dengan bahasa yang tenang dan simbolik, Abdul Wachid B. S. menjadikan setangkai mawar sebagai pusat kontemplasi, bukan sekadar bunga, melainkan lambang sikap hidup yang berserah dan tetap memberi meski tak selalu terlihat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keikhlasan dan keteguhan dalam memberi makna hidup. Puisi ini juga menyentuh tema spiritualitas, kesabaran, dan hubungan antara makhluk dengan waktu serta Yang Mahatinggi.

Puisi ini bercerita tentang setangkai mawar yang menengadah ke langit, diam namun setia “merenangi waktu”. Mawar tersebut menerima gerimis yang turun dari ketinggian dan menyadari bahwa bunganya tidak harus selalu mekar setiap hari. Meski demikian, harum yang dimilikinya tetap menyebar, dari taman hingga neraka, sebagai bentuk pemberian yang melampaui ruang dan keadaan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa nilai sebuah keberadaan tidak selalu diukur dari penampakan luar atau kemekaran yang terus-menerus. Seperti mawar, manusia dapat memberi makna dan manfaat meski dalam keterbatasan. Ungkapan “harumku memberi dari taman hingga neraka” menandakan daya pengaruh kebaikan yang mampu menjangkau segala ruang, bahkan yang paling gelap sekalipun.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, khusyuk, dan kontemplatif. Kesenyapan yang dihadirkan membuat puisi ini seperti doa lirih yang mengajak pembaca berhenti sejenak dan merenungi makna keberadaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tetap memberi kebaikan dengan ikhlas, tanpa menuntut pengakuan atau hasil yang kasat mata. Keikhlasan, sebagaimana ditunjukkan oleh mawar, justru melengkapi “daunan pagi” kehidupan, menghadirkan keseimbangan dan keteduhan batin.

Puisi “Harum Mawar” adalah puisi yang lembut namun dalam. Abdul Wachid B. S. menyampaikan pesan bahwa keikhlasan dan kebaikan sejati tidak selalu hadir dalam kemegahan, melainkan dalam diam, kesabaran, dan kesediaan memberi makna bagi kehidupan di sekelilingnya.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Harum Mawar
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.