Analisis Puisi:
Puisi “Hitam Rambutmu” karya Alizar Tanjung menghadirkan ungkapan cinta yang intim dan personal, berpadu dengan nuansa perpisahan yang lembut namun mendalam. Melalui detail-detail tubuh, aroma, dan lanskap maritim, puisi ini menjelma menjadi ruang kenangan yang hangat sekaligus getir. Rambut hitam menjadi pusat simbol yang mengikat ingatan, cinta, dan kehilangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta yang bertahan dalam kenangan meski harus berpisah. Puisi menyoroti bagaimana cinta tidak selalu berakhir bersama kehadiran fisik, tetapi bisa tetap hidup melalui ingatan, bahasa, dan sajak.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang kekasihnya melalui pengalaman indrawi: sentuhan, aroma, dan warna rambut. Kenangan tersebut terhubung dengan ruang-ruang perpisahan seperti tepi kota, pelabuhan, dan laut. Keberangkatan kapal menjadi penanda jarak dan perpisahan, sementara sajak menjadi tempat terakhir untuk mengabadikan cinta yang tidak lagi bisa direngkuh secara nyata.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa perpisahan tidak selalu mengalahkan cinta. Cinta justru menemukan bentuk barunya dalam kenangan dan penciptaan puisi. Rambut hitam yang “tidak mau mengalah” dapat dimaknai sebagai keteguhan rasa, kenangan yang menolak pudar meski waktu dan jarak terus berjalan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi didominasi oleh nuansa melankolis-romantis. Ada kehangatan dalam kenangan sentuhan dan aroma, namun sekaligus terselip kesepian dan keheningan yang lahir dari perpisahan. Laut, pelabuhan, dan kapal menciptakan atmosfer jarak, keabadian, dan kesendirian yang tenang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan amanat bahwa cinta tidak selalu harus memiliki akhir yang bahagia secara fisik. Mencintai juga berarti berani mengenang, menerima perpisahan, dan mengabadikan perasaan dengan jujur tanpa dendam. Kenangan bukanlah musuh perpisahan, melainkan cara lain untuk mempertahankan makna cinta.
Puisi “Hitam Rambutmu” adalah puisi cinta yang tidak berhenti pada romansa, tetapi berani masuk ke wilayah kehilangan dan keikhlasan. Alizar Tanjung meramu kenangan personal dengan simbol-simbol alam dan perjalanan, sehingga puisi ini terasa intim sekaligus universal. Sajak terakhir ini menjadi bukti bahwa cinta dapat terus hidup, bahkan ketika perpisahan telah menjadi takdir yang tak terelakkan.
Karya: Alizar Tanjung
Biodata Alizar Tanjung:
- Alizar Tanjung lahir pada tanggal 10 April 1987 di Solok.