Hujan Meminang Badai
ceritakan padaku tentang mendung
atau petir yang melantangkan kidung
menitikkan air mata
aku lupa membawa peta
jika kabut dan hujan
menyesatkan segala kenangan
hujan menjadi demikian cemas
tuhan pun melihatku berkemas
sebelum badai
dan tangan ombak melambai
berserah diri
di sudut hari
Parepare, 2006-2007
Sumber: Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia, 2007)
Analisis Puisi:
Puisi "Hujan Meminang Badai" karya Tri Astoto Kodarie menghadirkan ungkapan lirih tentang kegelisahan batin manusia ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Alam dijadikan bahasa utama untuk menyampaikan rasa cemas, kehilangan arah, dan sikap pasrah dalam menghadapi situasi yang tak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketidakpastian hidup dan kepasrahan manusia dalam menghadapi cobaan. Fenomena alam seperti hujan, mendung, petir, kabut, dan badai menjadi simbol kondisi batin yang tidak tenang dan penuh kegamangan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam situasi bingung dan gelisah. Ia meminta diceritakan tentang mendung dan petir, seolah mencari penjelasan atas kekacauan yang terjadi. Penyair merasa tersesat karena “lupa membawa peta”, lalu berhadapan dengan hujan dan kabut yang mengaburkan kenangan. Menjelang badai, ia memilih berkemas dan berserah diri di “sudut hari”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah gambaran manusia yang kehilangan pegangan ketika menghadapi perubahan atau cobaan besar. “Peta” dapat dimaknai sebagai arah hidup atau keyakinan, sementara hujan dan badai melambangkan masalah yang datang bertubi-tubi. Kepasrahan di akhir puisi menunjukkan kesadaran bahwa tidak semua hal bisa dilawan, sebagian harus diterima dengan ketundukan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram dan cemas. Sejak awal hingga akhir, pembaca dibawa pada nuansa sendu, penuh kegelisahan, namun perlahan mengarah pada sikap pasrah dan tenang setelah kegamangan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kesiapan batin dalam menghadapi cobaan hidup. Ketika arah terasa hilang dan masalah datang seperti badai, manusia diingatkan untuk tidak sepenuhnya melawan, melainkan belajar menerima dan berserah diri.
Puisi "Hujan Meminang Badai" adalah puisi yang memanfaatkan bahasa alam untuk menyuarakan kegelisahan manusia. Tri Astoto Kodarie menampilkan konflik batin dengan lembut namun kuat, hingga akhirnya mengarah pada kesadaran bahwa di tengah badai kehidupan, kepasrahan dapat menjadi bentuk keteguhan tersendiri.
Puisi: Hujan Meminang Badai
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
