Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Hujan Sudut Kota (Karya Mustafa Ismail)

Puisi "Hujan Sudut Kota" karya Mustafa Ismail menampilkan gambaran yang mendalam tentang hujan yang turun di sudut-sudut kota, serta interaksi ...
Hujan Sudut Kota

Aku kehujanan, tiada payung
kota bagai puisi
yang menetesi kata demi kata
dan kau dengan setia memungutnya
tanpa malu-malu
meski yang kau temui selalu saja kegelapan
tak mampu mengirim cahaya ke bukit-bukit itu.

Lhokseumawe, Aceh, Desember 1995

Sumber: Tarian Cermin (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Hujan Sudut Kota" karya Mustafa Ismail menampilkan gambaran yang mendalam tentang hujan yang turun di sudut-sudut kota, serta interaksi antara alam dan manusia dalam suasana urban yang kerap kali dingin dan tak ramah.

Struktur dan Gaya Bahasa

Puisi ini terdiri dari satu bait yang sederhana namun mengesankan. Dengan menggunakan struktur yang singkat namun padat, penyair berhasil menyampaikan gambaran tentang pengalaman kehujanan di tengah kota.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah tentang perasaan terhadap hujan dan kota. Penyair mengeksplorasi bagaimana hujan sebagai elemen alam yang tak terkendali dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap suasana dan persepsi seseorang terhadap lingkungannya.

Bahasa dan Imaji

Ismail menggunakan bahasa yang sederhana namun efektif dalam menggambarkan pengalaman kehujanan. Metafora "kota bagai puisi yang menetesi kata demi kata" menciptakan gambaran tentang bagaimana hujan memengaruhi dan mengubah persepsi tentang kota. Imaji tentang kegelapan yang tak mampu "mengirim cahaya ke bukit-bukit itu" menggambarkan atmosfer kota yang mungkin terasa suram dan tak ramah.

Puisi "Hujan Sudut Kota" tidak hanya sekadar deskripsi tentang hujan, tetapi juga refleksi tentang bagaimana alam dapat menjadi bagian integral dari pengalaman kota. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, Mustafa Ismail berhasil menciptakan sebuah karya yang mengundang pembaca untuk merenungkan hubungan antara alam dan urbanitas, serta bagaimana alam dapat mempengaruhi emosi dan persepsi manusia terhadap lingkungannya.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menenggelamkan diri dalam pengalaman sederhana namun mendalam tentang hujan di sudut-sudut kota, serta menyoroti kepekaan dan keterhubungan manusia dengan alam di tengah keramaian urban yang kadang kala bisa membuat terasa terisolasi.

Mustafa Ismail
Puisi: Hujan Sudut Kota
Karya: Mustafa Ismail

Biodata Mustafa Ismail:
  • Mustafa Ismail lahir pada tanggal 25 Agustus 1971 di Aceh.
© Sepenuhnya. All rights reserved.