Analisis Puisi:
Puisi "Intimidasi dalam Demokrasi" karya Remy Sylado merupakan puisi pendek dengan bahasa lugas dan padat, namun menyimpan kritik sosial yang tajam. Dengan larik-larik singkat dan repetitif, puisi ini memperlihatkan wajah demokrasi yang ironis—ketika kebebasan justru dibayangi oleh ancaman dan tekanan kekuasaan.
Kesederhanaan bentuk puisi ini justru memperkuat daya gugahnya, karena pembaca langsung dihadapkan pada inti persoalan tanpa hiasan berlebih.
Tema
Tema puisi ini adalah egoisme kekuasaan dalam sistem demokrasi. Demokrasi yang seharusnya menjamin kesetaraan dan kebebasan justru digambarkan sebagai ruang yang dikuasai oleh ego dan hierarki, di mana “kepala” menjadi simbol otoritas yang tak boleh dilampaui.
Puisi ini bercerita tentang ancaman yang diarahkan kepada siapa pun yang berani melampaui atau melawan kekuasaan. Ungkapan “siapa berani melebihi kepala terhadap kepala” menggambarkan situasi sosial-politik yang menekan, di mana kritik dan perbedaan pendapat dibalas dengan intimidasi dan hukuman.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap praktik demokrasi yang menyimpang. Kekuasaan yang seharusnya melayani justru menuntut kepatuhan mutlak. Ancaman “hilang kepala” bukan hanya bermakna fisik, tetapi juga simbol hilangnya hak, posisi, suara, dan bahkan identitas seseorang dalam sistem yang represif.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tegang dan menakutkan. Setiap larik seolah mengandung peringatan keras, menciptakan atmosfer intimidatif yang menekan keberanian dan kebebasan berpikir.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk melawan intimidasi dengan cara yang bermartabat. Perlawanan terbaik bukan melalui kekerasan atau cara-cara licik, melainkan melalui usaha, keilmuan, dan tindakan positif. Puisi ini juga mengingatkan pentingnya bersikap baik dan siap berkontribusi bagi sesama dalam kehidupan demokratis.
Imaji
Puisi ini membangun imaji simbolik yang kuat melalui kata “kepala”. Kepala menghadirkan gambaran kekuasaan, pimpinan, dan otoritas. Ancaman kehilangan kepala menciptakan imaji ekstrem tentang hukuman dan ketakutan, meski disampaikan secara sangat ringkas.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada kata “kepala” sebagai simbol kekuasaan dan otoritas.
- Repetisi, pada penggunaan kata “kepala” untuk menegaskan hierarki dan tekanan.
- Hiperbola, pada ancaman “hilang kepala” sebagai bentuk penegasan intimidasi.
Puisi "Intimidasi dalam Demokrasi" karya Remy Sylado adalah potret singkat namun tajam tentang wajah gelap demokrasi yang dikuasai ego dan ketakutan. Dengan bahasa yang minimalis, puisi ini menyampaikan kritik sosial yang kuat sekaligus mengingatkan bahwa demokrasi sejati hanya dapat tumbuh melalui sikap saling menghargai, keberanian intelektual, dan tindakan positif yang berlandaskan etika.
Karya: Remy Sylado
