Jalan Panjang
jalan panjang, jalan lengang sabtu malam
jalan bimbang, jalan manusia ditakik tanya
pecah di kiri, pecah di kanan. Pecah di diri
"ke mana pergi? Di mana akan berhenti?"
pagar-pagar mengekalkan perbatasan, pohon-pohon
mengekalkan kanak-kanak. Cahaya lampu, suara tv
gaung tetamu di ruang duduk. Orang-orang mabuk
mengapungkan balon hitam. Bulan pucat
debu-debu bergelantungan pada dahan angin. Anjing
meraung sepanjang malam. Tulang-tulang daging
terbirit dikejar lapar. Dikejar lapar
jalan lengang, jalan bimbang, jalan panjang
1982
Sumber: Horison (November, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Jalan Panjang” menghadirkan lanskap malam yang sepi sekaligus gelisah. Melalui pengulangan kata “jalan”, Beni Setia menegaskan perjalanan batin manusia yang penuh keraguan, keterasingan, dan pertanyaan eksistensial. Jalan dalam puisi ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol hidup yang panjang, lengang, dan sering kali membingungkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kegelisahan eksistensial dan keterasingan manusia dalam perjalanan hidup. Puisi juga menyentuh tema kesepian, kebimbangan memilih arah, serta jarak antara individu dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di jalan panjang dan lengang pada malam Sabtu. Di tengah suasana sepi, muncul pertanyaan mendasar tentang tujuan dan akhir perjalanan hidup: “ke mana pergi? Di mana akan berhenti?”. Di sekelilingnya, kehidupan lain tetap berjalan—lampu rumah menyala, televisi berbunyi, orang mabuk, anjing meraung—namun semua itu justru menegaskan kesendirian dan kebimbangan si aku.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menggambarkan kondisi manusia modern yang terpecah secara batin. Meski dikelilingi tanda-tanda kehidupan sosial, manusia tetap merasa kosong dan terasing. Jalan yang “pecah di kiri, pecah di kanan, pecah di diri” menyiratkan konflik internal, pilihan hidup yang tidak pasti, serta tekanan kebutuhan dasar yang tak pernah selesai, seperti lapar yang terus mengejar.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, sunyi, dan gelisah. Malam yang lengang, bulan pucat, debu yang bergelantungan, serta raungan anjing membangun atmosfer kelelahan batin dan kecemasan yang berlarut-larut.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari dan menghadapi kegelisahan hidup dengan jujur. Puisi ini seakan mengingatkan bahwa kebimbangan dan rasa tersesat merupakan bagian dari perjalanan manusia, dan setiap individu harus berani menapaki “jalan panjang” itu meski tanpa kepastian.
Puisi “Jalan Panjang” adalah puisi reflektif yang menyoroti perjalanan manusia dalam kesepian dan ketidakpastian. Dengan bahasa yang sederhana namun sugestif, Beni Setia berhasil menghadirkan potret kegelisahan hidup yang dekat dengan pengalaman banyak orang: berjalan jauh, terus melangkah, meski tidak selalu tahu ke mana arah akhirnya.
Profil Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
