Sumber: Gergaji (2001)
Analisis Puisi:
Puisi "Jejak-Jejak" menghadirkan perenungan filosofis tentang perjalanan manusia dalam ruang dan waktu. Melalui metafora pantai, gelombang, pasir, dan angin, Slamet Sukirnanto mengajak pembaca menyadari keterbatasan manusia dalam meninggalkan tanda yang kekal di dunia yang senantiasa berubah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketidakkekalan hidup dan pencarian makna dalam perjalanan manusia. Puisi ini juga menyentuh tema kefanaan, perubahan, dan hubungan antara manusia dengan semesta.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertahun-tahun menyusuri pantai dan waktu, berusaha membaca gelombang serta meninggalkan jejak-jejak di pasir. Namun, setiap jejak itu selalu terhapus oleh angin dan embusan yang datang tiba-tiba. Perjalanan fisik tersebut kemudian melebar menjadi perjalanan batin—menyusuri gejala kehidupan, ketidakpastian, dan upaya manusia memberi tanda serta makna pada hidupnya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Jejak yang dibuat manusia—baik berupa tindakan, pemikiran, maupun ambisi—kerap sirna oleh perubahan yang tak terduga. Puisi ini juga menyiratkan bahwa hidup adalah interaksi antara saling membangun dan saling merusak, dan manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang terus bergerak.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana kontemplatif dan tenang, namun juga sarat kegelisahan halus. Ada nuansa pasrah sekaligus reflektif ketika penyair menyadari keterbatasan kompas hidup dan ketidakpastian arah.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima ketidakkekalan hidup dengan lapang. Manusia diingatkan agar tidak terlalu terikat pada jejak atau tanda yang ingin ditinggalkan, melainkan belajar menjalani hidup apa adanya, menyadari bahwa banyak hal berada di luar kendali.
Puisi "Jejak-Jejak" karya Slamet Sukirnanto merupakan refleksi mendalam tentang hidup sebagai perjalanan tanpa peta pasti. Dengan bahasa yang tenang dan filosofis, puisi ini mengajak pembaca berdamai dengan ketidakkekalan serta memahami bahwa makna hidup tidak selalu terletak pada jejak yang ditinggalkan, melainkan pada kesadaran menjalani prosesnya.
Karya: Slamet Sukirnanto
Biodata Slamet Sukirnanto:
- Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
- Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
- Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.