Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Jejak-Jejak (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi "Jejak-Jejak" karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang seseorang yang bertahun-tahun menyusuri pantai dan waktu, berusaha membaca gelombang ...
Jejak-Jejak

Bertahun menyusuri pantai membaca gelombang membuat
jejak-jejak di atas pasir dihapus angin sepoi dan dibangunnya
lagi jejak-jejak itu tapi sia-sia tak mampu membentengi bekas
oleh embusan yang datang tiba-tiba.

Ia tahu belajar tentang yang tidak kekal segala ikhwal
yang bergerak karena ada campur tangan saling merusak
dan saling membangun semua gejala dan semua
unsur-unsurnya yang hadir seenaknya di hantaran
semesta yang ada dalam batin manusia.

Tak mungkin ruang kosong di mana saja dibiarkan
tidak berpenghuni juga di antara langit dan bumi
atau wilayah penjelajahan lain yang tak terjangkau
indera ini.

Bertahun menyusuri waktu lewat lorong semua gejala
yang tampak lapang berliku atau lingkaran batin
menghadang ketidakpastian kompas hidupmu lalu kau
buat tanda-tanda tapi apa manfaatnya biarkan semua
seadanya seperti memasuki tamasya yang tak pernah
kau perkirakan lembaran petanya.

Jakarta, 29 Desember 1993

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi "Jejak-Jejak" menghadirkan perenungan filosofis tentang perjalanan manusia dalam ruang dan waktu. Melalui metafora pantai, gelombang, pasir, dan angin, Slamet Sukirnanto mengajak pembaca menyadari keterbatasan manusia dalam meninggalkan tanda yang kekal di dunia yang senantiasa berubah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakkekalan hidup dan pencarian makna dalam perjalanan manusia. Puisi ini juga menyentuh tema kefanaan, perubahan, dan hubungan antara manusia dengan semesta.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertahun-tahun menyusuri pantai dan waktu, berusaha membaca gelombang serta meninggalkan jejak-jejak di pasir. Namun, setiap jejak itu selalu terhapus oleh angin dan embusan yang datang tiba-tiba. Perjalanan fisik tersebut kemudian melebar menjadi perjalanan batin—menyusuri gejala kehidupan, ketidakpastian, dan upaya manusia memberi tanda serta makna pada hidupnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Jejak yang dibuat manusia—baik berupa tindakan, pemikiran, maupun ambisi—kerap sirna oleh perubahan yang tak terduga. Puisi ini juga menyiratkan bahwa hidup adalah interaksi antara saling membangun dan saling merusak, dan manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang terus bergerak.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana kontemplatif dan tenang, namun juga sarat kegelisahan halus. Ada nuansa pasrah sekaligus reflektif ketika penyair menyadari keterbatasan kompas hidup dan ketidakpastian arah.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima ketidakkekalan hidup dengan lapang. Manusia diingatkan agar tidak terlalu terikat pada jejak atau tanda yang ingin ditinggalkan, melainkan belajar menjalani hidup apa adanya, menyadari bahwa banyak hal berada di luar kendali.

Puisi "Jejak-Jejak" karya Slamet Sukirnanto merupakan refleksi mendalam tentang hidup sebagai perjalanan tanpa peta pasti. Dengan bahasa yang tenang dan filosofis, puisi ini mengajak pembaca berdamai dengan ketidakkekalan serta memahami bahwa makna hidup tidak selalu terletak pada jejak yang ditinggalkan, melainkan pada kesadaran menjalani prosesnya.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Jejak-Jejak
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.