Analisis Puisi:
Puisi "Kadal Musim Panas" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan karya yang sarat akan metafora, deskripsi, dan penyajian visual dalam menceritakan atmosfer musim panas yang penuh dengan kekeringan, kehampaan, dan keganasan.
Metafora Alamiah:
Puisi ini menggunakan kadal sebagai metafora dari ketidakberdayaan di musim panas yang terik, yang mewakili kondisi kehidupan yang kekeringan dan kehampaan.
Deskripsi Kekeringan: Gambaran kekeringan dan pasir yang terkulai mewakili suasana musim panas yang keras dan tandus.
Metafora Politik dan Sosial: Kadal yang menjilati tubuh yang seperti batu pualam dan bayang-bayang yang enggan menjadi cahaya bisa diasosiasikan dengan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan untuk berubah atau berkembang.
Citra Karang Laut Selatan dan Bongkahan Perahu Nuh: Penyebutan karang laut selatan dan bongkahan perahu Nuh membawa nuansa mistis, seakan menyinggung tentang mitos atau masa lalu yang mengandung harapan tetapi juga kehampaan.
Pencitraan Matahari dan Mata: Penggambaran matahari sebagai "tabir paling rahasia" pada matamu membawa gambaran yang kuat akan ketidakmampuan melihat atau memahami kebenaran di tengah-tengah kehampaan dan kebingungan.
Metafora Runtuhan Bangsa dan Keruntuhan Diri: Puisi menyoroti keruntuhan negara dan masyarakat yang merusak dirinya sendiri, memberikan latar belakang tentang bagaimana masa lalu yang menyedihkan membentuk masa kini yang penuh kebingungan.
Puisi "Kadal Musim Panas" adalah representasi visual dan puitis tentang ketidakberdayaan dan kebingungan di musim panas yang keras. Dengan menggambarkan kadal, kekeringan, pasir, matahari, dan runtuhan bangsa, puisi ini memberikan gambaran akan masa kini yang keras, tanpa harapan, dan tergelincir ke dalam kehampaan yang mendalam. Hal ini memberikan kemungkinan interpretasi yang luas, merujuk pada persoalan sosial, politik, dan kondisi manusia pada umumnya.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
