Puisi: Kado Perkawinan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Kado Perkawinan" karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang menyaksikan hari perkawinan seseorang yang pernah memiliki tempat ...
Kado Perkawinan

pada hari perkawinanmu
kuanggap lenyap
getar pesona masa silammu
dan kenangan yang mengendap

bagai album yang belum selesai
tak juga sampai
kita
apakah artinya, apakah artinya

dan peperangan dalam batinku
kuanggap tak pernah ada
dan siapa pun, juga kau
berhak bahagia

Sumber: Solitaire (1981)

Analisis Puisi:

Puisi "Kado Perkawinan" karya Gunoto Saparie menampilkan perasaan yang sederhana namun emosional: penerimaan dan keikhlasan atas masa lalu yang harus dilepaskan. Melalui bahasa yang tenang dan reflektif, penyair menyuguhkan potret batin seseorang yang memberi “kado” bukan dalam bentuk benda, melainkan sikap batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keikhlasan, perpisahan batin, dan penerimaan terhadap kebahagiaan orang lain. Perkawinan menjadi momen simbolik untuk mengakhiri keterikatan masa silam.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan hari perkawinan seseorang yang pernah memiliki tempat penting dalam hidupnya. Pada hari itu, ia berusaha menganggap lenyap semua getar pesona masa lalu, kenangan yang mengendap, serta konflik batin yang pernah terjadi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa melepaskan tidak selalu berarti melupakan sepenuhnya, melainkan berdamai dengan kenangan. “Kado perkawinan” yang sesungguhnya adalah keikhlasan dan doa agar orang lain berhak bahagia, meski di dalam batin masih tersisa tanya dan bekas luka.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung sendu namun tenang. Ada kesedihan yang tertahan, tetapi dibingkai oleh sikap dewasa dan pasrah, sehingga kesan yang muncul bukan ratapan, melainkan perenungan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyiratkan amanat bahwa kebahagiaan orang lain patut dihormati, sekalipun itu berarti mengubur konflik batin sendiri. Keikhlasan adalah bentuk kematangan emosional yang tidak selalu mudah, tetapi perlu dijalani.

Puisi "Kado Perkawinan" merupakan puisi yang menampilkan kedewasaan emosional: tentang menerima, melepaskan, dan memberi restu dalam diam. Gunoto Saparie menghadirkan puisi yang ringkas namun menyentuh, menegaskan bahwa kado paling tulus kadang hadir dalam bentuk keikhlasan batin.

Gunoto Saparie
Puisi: Kado Perkawinan
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.