Kami Dihubungkan oleh Usus
kami dihubungkan oleh usus. Saling menelan
bermimpi bisa mengalahkan anjing
dalam lambung. Lumpuh
ke luar lewat dubur, hanyut di sungai
di sisi malam mata kami lebih kelam. Putus asa
dicucuki jutaan bintang. Sia-sia
berteriak. Angin menjambaki rambut
daging terserpih-serpih. Hanyut
tulang bertemu tulang. Bergesek, menyala
bulan dibom. Kelamin yang dijulurkan
menggelepar dalam kelam
tumpah. Menyerah
hidup milik siapa? Rencana hanyut di detik waktu
segala punya harga. Kami bergelantung pada dahan
1982
Sumber: Horison (November, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi "Kami Dihubungkan oleh Usus" karya Beni Setia menghadirkan dunia puisi yang brutal, gelap, dan tubuh-sentris. Bahasa yang digunakan sengaja kasar dan biologis, seolah menyeret pembaca masuk ke ruang paling dasar dari keberadaan manusia. Melalui citraan tubuh, malam, dan kehancuran, puisi ini tidak menawarkan keindahan konvensional, melainkan kebenaran yang getir tentang relasi manusia dan hidup yang kian tereduksi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah dehumanisasi dan keterikatan manusia pada naluri paling purba, terutama dorongan biologis, kekerasan, dan logika bertahan hidup. Hubungan antarmanusia tidak digambarkan melalui nilai luhur, melainkan melalui organ tubuh paling dasar: usus.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kami” yang terhubung bukan oleh gagasan, cinta, atau solidaritas, tetapi oleh sistem pencernaan—simbol siklus menelan, mengolah, dan membuang. Mereka saling menelan, bermimpi mengalahkan anjing, lalu berakhir lumpuh dan hanyut di sungai.
Cerita ini bergerak dari tubuh ke malam, dari tulang ke tulang, hingga pada pertanyaan eksistensial tentang kepemilikan hidup dan runtuhnya rencana di tengah waktu yang terus berjalan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik keras terhadap kehidupan manusia yang telah direduksi menjadi proses konsumsi dan pembuangan. Segala sesuatu diukur oleh harga, bukan nilai. Hidup kehilangan makna transendennya dan berubah menjadi rantai biologis dan ekonomi yang saling mengikat, menekan, dan menyeret manusia menuju kelelahan kolektif dan keputusasaan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa gelap, putus asa, dan brutal. Malam digambarkan kelam, teriakan sia-sia, tubuh terserpih, dan bulan dibom. Atmosfer ini menegaskan dunia yang kacau, tanpa perlindungan moral atau spiritual.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan reflektif agar manusia menyadari bahaya ketika hidup hanya dipahami sebagai urusan biologis dan ekonomi semata. Ketika “segala punya harga”, manusia kehilangan martabat dan mudah menyerah pada arus kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji tubuh dan kehancuran, antara lain:
- “kami dihubungkan oleh usus” sebagai imaji biologis yang ekstrem.
- “ke luar lewat dubur, hanyut di sungai” yang menghadirkan imaji visual sekaligus menjijikkan.
- “tulang bertemu tulang. Bergesek, menyala” sebagai imaji kekerasan dan konflik.
- “bulan dibom” sebagai imaji kehancuran kosmik.
Imaji-imaji ini bekerja untuk mengguncang kenyamanan pembaca dan memaksa konfrontasi dengan sisi paling gelap kehidupan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti usus sebagai simbol keterikatan hidup yang rendah dan mekanis.
- Hiperbola, pada gambaran tubuh yang hancur dan bulan yang dibom.
- Personifikasi, pada angin yang “menjambaki rambut”.
- Simbolisme, pada sungai, malam, dan dahan sebagai lambang arus hidup, kejatuhan, dan upaya bertahan.
Puisi "Kami Dihubungkan oleh Usus" karya Beni Setia merupakan kritik eksistensial yang keras dan tanpa kompromi. Dengan bahasa tubuh yang ekstrem dan citraan kehancuran, puisi ini memotret manusia modern yang kehilangan orientasi nilai dan martabat. Pembaca diajak merenungkan kembali: jika hidup hanya soal harga dan bertahan, lalu di manakah letak kemanusiaan itu sendiri?
Profil Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
