Kami Kauhalau ke Lembah-Lembah ke Rumah Rimau
(1)
Dari manatah arah kumandang
dipukul bertalu-talu
orang-orang dari luhak dan urung
maklum dan tahu
Lelang! Lelang!
sebidang tanah akan hilang
Sepasukan serdadu Belanda
mengokang senjata
tepat ke ulu hatimu
meski tentu tahu
dan paham benar
jauh sejak dulu
ketika jejakkan kaki di Nusantara
merampas lada dan biji pala
akan ketegaran hati Melayu
harungi laut dan pulau-pulau
ombak adalah rumahnya
badai asam garamnya
gelombang menjadi napas
tempat anak cucu menetas
merentas pantai demi pantai
membangun bandar dan kota
bahasanya lingua franca
I Tsing pengembara
Sang biksu
abad ke tujuh
terpesona
melihat Malayu
punya peradaban
undang-undang dan persuratan
(2)
di sinilah
di tanah ini
moyangku bertanam ubi dan rebung
bertanam padi dan jagung
diketam ditampi
disimpan berlumbung-lumbung
ditanak Sitimun dan Sibuyung
baunya semerbak sengam
ke tujuh tanjung
di sinilah
di tanah ini
di tanah lepuh ini
kami tanam kelapa
kami tanam biji pala
kami tanam lada
jintan dan halia
hangatnya masih terasa
beribu-ribu pikul
berlaksa
setiap hari kami angkut
dalam badai gelombang laut
dengan tongkang, sampan dan sekunar
berniaga dengan para saudagar
mancanegara
arab cina turki india eropa
hingga ke madagaskar
(3)
Nienhuys!
siapakah engkau
datang dari Batavia
terbata-bata
dengan kocek Sayid Abdoellah ibnu Oemar Bilsagih
engkau berkuda
memeriksa kebun tembakau baru pertama
daun emas
mahalnya tiada terkira-kira
di Eropa sana
di Deli
tanah jutaan hektar
matamu merah berbinar-binar
kausekap Sayid Abdoellah ibnu Oemar
dan mulut Sultan Mahmud Perkasa Alam
ternganga lebar-lebar
lalu dengan pongah
dia serahkan tanah
dari medan, pulau brayan, batang kuis, titipapan,
sentis, mabar, helvetia
petumbak, sukapiring
hingga ke delitua
merebak ke hamparan perak,
tebing tinggi
ke langkat tanjung pura
di Sunggal engkau naas
rakyat melawan sebab tanahnya dirampas
mereka tebas laskar Sultan
dan leher kompeni itu
mereka bersatu
Melayu dan Haru
"Ini bukan tanahmu, Sultan!
kami membuka lahan
dengan peluh bergantang
engkau memberikan konsesi
sesuka hatimu"
"dulu rumahmu bertiang nibung
bergaul akrab
baju kecak musang
berkain sarung
kini kau bangun Istana Maimoon
megah
pakai pantalon
bau peluhmu pun sudah menu eropah"
Engkau tahu
posisi
Datuk Sunggal Pemangku
Ulon Janji
antara Datuk Empat Suku
menabalkan Raja-Raja Deli
kau khianati!
Datuk Kecik Sridiraja
dibuang Kumpeni
semasa Tjut Nja’ Dien
terusir
ke tanah Jawa
lalu adalah tetes darah
atas tanah
dendam tak sudah
Perang Sunggal
begitu besar
tak tercatat dalam sejarah
(4)
Demikianlah kami kau halau
ke rawa-rawa
ke hutan bakau
ke rumah rimau
ke lembah-lembah
Di tepi-tepi tebing
sungai
kami memacak lanting
dalam tubuh lepai
dan air bah
Hari berganti tahun
ketika nienhuys
melabur daun
meraup picis
lalu mati
dan belanda angkat kaki
kami masih berpantun
di kampung halaman sendiri
lebih terjajah
(5)
Dihempas gelombang sejarah
dipukul badai
dilecut panas dan dingin
lama abai
mematut diri di cermin
ah
wajah telah menjadi lain
kami telah berubah
bagai menating minyak penuh
hatinya telur lipasan
bak melukut tepi gantang
keluar tak susut
masuk pun tak bertambah
terhimpit mau di atas
terkurung hendak di luar
cerdik tak terikut
mengikut
mau di muka
ayam menang kampong tergadai
jangankan untung pokok pun lesap
empat ganjil lima genap
tinggal sekupang genap
dalam pinggan
penuh mubung
segala penjuru orang merubung
ia bagai pengutip rimah
(6)
O, I Tsing
O biksu pengembara kami
Yang langsing
Akankah kau singgah
Seperti dulu
Sembari niup seruling bambu?
Tak usah
Analisis Puisi:
Puisi “Kami Kauhalau ke Lembah-Lembah ke Rumah Rimau” merupakan karya panjang bernuansa epik-historis yang merekam jejak penindasan, perampasan tanah, dan pengkhianatan dalam sejarah Melayu, khususnya di wilayah Sumatra Timur. Damiri Mahmud menghadirkan puisi ini sebagai kesaksian kolektif, bukan ratapan personal, sehingga suara “kami” menjadi pusat pengalaman dan ingatan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perampasan tanah, kolonialisme, dan ketercerabutan identitas masyarakat Melayu akibat kekuasaan kolonial dan elite lokal yang bersekutu dengan penjajah. Puisi ini juga mengangkat tema perlawanan, ingatan sejarah, dan ironi kemerdekaan yang belum sepenuhnya membebaskan rakyat.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan panjang masyarakat Melayu yang tanahnya dilelang, dirampas, dan diserahkan kepada kepentingan kolonial Belanda melalui perkebunan besar. Dikisahkan bagaimana kedatangan kolonial, tokoh-tokoh seperti Nienhuys, serta keterlibatan penguasa lokal menyebabkan rakyat terusir dari tanah leluhur, dihalau ke rawa, hutan bakau, lembah-lembah, hingga “rumah rimau”. Puisi juga menyinggung perlawanan rakyat Sunggal yang besar tetapi luput dari catatan sejarah resmi.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap sejarah yang ditulis oleh penguasa. Puisi menegaskan bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, tetapi juga dimungkinkan oleh pengkhianatan elite lokal terhadap rakyatnya sendiri. Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa meskipun kolonialisme secara formal telah berakhir, penindasan struktural dan keterjajahan sosial masih berlangsung hingga kini.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana getir, marah, duka, dan getir yang berlapis-lapis. Ada nada kemarahan terhadap pengkhianatan, kesedihan atas kehilangan tanah dan jati diri, serta kelelahan sejarah yang panjang dan tak kunjung selesai.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk mengingat dan meninjau ulang sejarah dari sudut pandang rakyat yang terpinggirkan. Puisi juga mengingatkan pentingnya menjaga tanah, identitas, dan martabat, serta kewaspadaan terhadap kekuasaan yang mengatasnamakan kemajuan tetapi justru menindas.
Puisi “Kami Kauhalau ke Lembah-Lembah ke Rumah Rimau” karya Damiri Mahmud bukan sekadar puisi sejarah, melainkan gugatan terhadap lupa kolektif. Melalui bahasa yang keras, detail historis, dan simbol-simbol kuat, puisi ini menjadi pengingat bahwa luka sejarah tidak pernah benar-benar sembuh jika kebenaran terus disingkirkan. Puisi ini menempatkan sastra sebagai alat perlawanan dan penjaga ingatan, agar suara “kami” tidak lagi terhapus dari sejarah.
Puisi: Kami Kauhalau ke Lembah-Lembah ke Rumah Rimau
Karya: Damiri Mahmud
Biodata Damiri Mahmud:
- Damiri Mahmud lahir pada tanggal 17 Januari 1945 di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.
- Damiri Mahmud meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2019 (pada usia 74) di Deli Serdang, Sumatra Utara.