Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kelopak Teratai (Karya Beni Setia)

Puisi "Kelopak Teratai" karya Beni Setia bercerita tentang runtuhnya ketenangan yang awalnya hadir melalui citra kolam dan teratai. Jalan panjang ...

Kelopak Teratai

kelopak teratai melunglai, beberapa helai bunga
terkulai. Angin menggoncang-goncangkan kolam
rubuh. Ketenanganku rubuh

jalan panjang berbatu runcing. Bercetusan luka kaki
jalan panjang melingkar di tepi kolam. Rumput-rumput
rebah diinjak kaki sapi. Rebah

"mana lidahmu" kata sang senapan, "mana ludahnya"
(nyanyian panjang rumah jagal). Sang gagak berteriak
pada tanda tiang tunggal. Kelam pandangannya

jerusalem. Jerusalem, simpan jantungku, darahku di tanah-Mu
aku terlunta

1982

Sumber: Horison (November, 1982)

Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi "Kelopak Teratai" karya Beni Setia menghadirkan lanskap batin yang retak dan penuh kekerasan simbolik. Dengan bahasa yang padat, citraan alam yang semula tenang perlahan berubah menjadi ruang kegelisahan, luka, dan keterasingan. Teratai—yang lazim diasosiasikan dengan ketenangan dan kesucian—dihadirkan dalam keadaan melunglai, seolah menandai runtuhnya keseimbangan batin dan dunia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keruntuhan ketenangan dan konflik batin manusia di tengah kekerasan dan keterasingan. Alam, tubuh, dan simbol-simbol kekuasaan berkelindan dalam satu suasana yang suram dan menekan.

Puisi ini bercerita tentang runtuhnya ketenangan yang awalnya hadir melalui citra kolam dan teratai. Jalan panjang berbatu runcing menghadirkan perjalanan penuh luka, sementara suara senapan, rumah jagal, dan gagak mempertegas masuknya kekerasan ke dalam ruang batin penyair. Di bagian akhir, seruan pada “Jerusalem” memperluas ruang puisi ke ranah sejarah, spiritual, dan konflik kemanusiaan yang lebih luas.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap dunia yang tak lagi memberi ruang aman bagi ketenangan dan kemurnian. Teratai yang melunglai menyimbolkan nilai-nilai kemanusiaan yang rusak oleh kekerasan, penindasan, dan konflik berkepanjangan. Seruan pada Jerusalem menyiratkan kerinduan akan tempat suci atau ruang damai yang kini justru dipenuhi darah dan keterlantaran.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, kelam, dan penuh kegelisahan. Setiap larik membawa ketegangan: dari alam yang rubuh, tubuh yang terluka, hingga suara senjata dan bayang kematian.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan tentang rapuhnya ketenangan jika kekerasan dibiarkan merajalela. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan dampak konflik—baik personal maupun kolektif—serta pentingnya menjaga nilai kemanusiaan dan kedamaian di tengah dunia yang brutal.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan emosional, antara lain:
  • “kelopak teratai melunglai” sebagai imaji keruntuhan keindahan.
  • “jalan panjang berbatu runcing” sebagai imaji penderitaan dan perjalanan yang menyakitkan.
  • “nyanyian panjang rumah jagal” sebagai imaji kekerasan dan kematian.
  • “gagak berteriak” sebagai imaji kelam pertanda bencana.
Imaji-imaji ini membangun pengalaman membaca yang intens dan menghantui.

Puisi "Kelopak Teratai" karya Beni Setia adalah potret getir tentang runtuhnya ketenangan di tengah dunia yang sarat luka dan kekerasan. Melalui simbol alam yang dirusak dan seruan kemanusiaan yang terbuang, puisi ini mengajak pembaca menyelami kegelisahan batin sekaligus merenungkan nasib nilai-nilai suci yang terus terinjak oleh sejarah dan konflik manusia.

Beni Setia
Puisi: Kelopak Teratai
Karya: Beni Setia

Biodata Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.