Analisis Puisi:
Puisi "Kepada Kakek" karya Gunoto Saparie menghadirkan dialog batin yang lirih antara penyair dan sosok kakek. Puisi ini tidak sekadar menjadi ungkapan empati terhadap kesedihan seorang tokoh tua, melainkan juga refleksi tentang ingatan, kehilangan, dan hubungan manusia dengan masa lalu. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat nuansa emosional, penyair mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan duka yang tak terucap.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kesedihan yang terpendam akibat kehilangan dan kesepian di usia tua. Puisi ini juga menyentuh tema ingatan keluarga, keterputusan generasi, serta kesunyian batin yang terus menetap meskipun waktu berjalan. Kesedihan digambarkan bukan sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai keadaan yang “abadi” dan diam-diam menggerogoti jiwa.
Puisi ini bercerita tentang seorang kakek yang menyimpan kesedihan mendalam di hadapan pusara seseorang dari masa lalunya. Sosok yang dimakamkan tersebut tampaknya adalah nenek—figur perempuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan sang kakek sejak kecil. Penyair mempertanyakan mengapa kakek enggan berbagi kesedihannya, meski kesedihan itu begitu nyata dan terus membayangi hari-harinya.
Kisah ini juga menyinggung latar kehidupan pedesaan melalui gambaran sawah, galengan, dan aroma tanah, yang menjadi saksi perjalanan hidup kakek sejak masa yatim-piatu hingga tua. Kini, ketika orang-orang terdekat telah tiada, dunia sang kakek digambarkan semakin suram dan sepi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya memahami duka orang lain, bahkan duka orang terdekat. Pertanyaan “siapakah terkubur di sini sesungguhnya” mengisyaratkan bahwa yang benar-benar terkubur bukan hanya jasad seseorang, melainkan juga kenangan, kasih sayang, dan bagian dari diri kakek sendiri.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesedihan yang tidak dibagikan dapat menjadi beban batin yang terus hidup, membuat seseorang terperangkap dalam kenangan masa lalu. Kehilangan figur pengasuh sejak kecil membentuk kesepian yang panjang, dan kesepian itu tidak pernah benar-benar sembuh.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sendu, muram, dan sunyi. Kesunyian ini diperkuat oleh latar pusara, kenangan masa kecil, serta gambaran dunia yang “makin kelabu”. Tidak ada kemarahan atau pemberontakan dalam puisi ini, melainkan kesedihan yang tenang dan menahun, seolah sudah menyatu dengan napas kehidupan tokohnya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya empati dan kesediaan untuk memahami luka batin orang lain, terutama mereka yang telah lama memendam kesedihan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa setiap manusia membawa riwayat hidup yang kompleks, dan tidak semua luka dapat diceritakan atau dimengerti secara mudah.
Selain itu, puisi ini menyiratkan pesan tentang pentingnya menjaga ingatan dan menghargai relasi keluarga, karena kehilangan dan kesepian bisa menjadi bayang-bayang panjang dalam kehidupan seseorang.
Puisi "Kepada Kakek" karya Gunoto Saparie adalah karya yang lembut namun menghunjam, mengajak pembaca merenungkan makna kehilangan, ingatan, dan kesunyian yang sering kali luput dari perhatian. Puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesederhanaan bahasa, terdapat kedalaman rasa dan kemanusiaan yang kuat.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
