Puisi: Kepada Marry Mangunsong (Karya Karno Kartadibrata)

Puisi "Kepada Marry Mangunsong" karya Karno Kartadibrata mengajak pembaca untuk sejenak melupakan beban dan menikmati kebersamaan, sebelum waktu ...
Kepada Marry Mangunsong

Gadis cemerlang!
Sore ini aku akan datang jam lima
sekarang jam 15.00, 16.30 dan hampir jam 17.00
Sudahlah betulkan ikatan rambutmu
mari lewat kebun bunga poppy
lewat jembatan kayu
pegang, pegang
dalam keributan tawamu.

Singgah di gedung-gedung tua
duduk di teras batu-bata merah
lewat halaman berkerikil
sambil tertawa-tawa kecil
Berenang? Kau bertanya
Ya, bawa scooter-mu
ke pemandian. Di sana dengan bunga
bougenville dan air membersit di gunung-gunung kecil
menyelam hingga lupa
kalungmu, gelangmu, cincinmu.

Lupakan juntaian kaki
dan kantuk datang di siang hari
biar tertinggal termos, remah-remah roti
saputangan, bungkus gula-gula, jejak-jejak kaki.

1973

Sumber: Horison (Mei, 1975)

Catatan:
Puisi ini kemudian hari dimuat ke dalam buku Picnic (2009).

Analisis Puisi:

Puisi "Kepada Marry Mangunsong" karya Karno Kartadibrata menghadirkan suasana personal dan intim yang dibangun melalui ajakan-­ajakan sederhana, detail waktu, serta potongan aktivitas sehari-hari. Puisi ini tidak bergerak pada konflik besar, melainkan pada momen kecil yang terasa hidup dan hangat. Melalui sapaan langsung kepada tokoh “Marry Mangunsong”, penyair seolah mengabadikan satu sore yang penuh keceriaan, kebersamaan, dan kenangan yang rapuh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kedekatan personal dan kebahagiaan sederhana dalam kebersamaan. Puisi ini juga bersinggungan dengan tema waktu, kenangan, serta upaya menikmati momen tanpa beban.

Puisi ini bercerita tentang ajakan sang "aku" kepada seorang gadis untuk menghabiskan waktu bersama pada suatu sore. Mereka berjalan melewati kebun bunga, jembatan kayu, gedung tua, hingga pemandian. Aktivitas-aktivitas ringan seperti tertawa, berenang, dan berjalan santai menjadi rangkaian peristiwa yang dirajut tanpa alur dramatik, tetapi justru terasa alami dan dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah keinginan untuk melepaskan diri dari keteraturan, jadwal, dan keterikatan material. Ajakan untuk melupakan kalung, gelang, cincin, hingga barang-barang kecil seperti termos dan saputangan dapat dibaca sebagai simbol pelepasan beban dan kepemilikan. Yang ingin dihadirkan bukanlah hasil atau tujuan, melainkan pengalaman bersama itu sendiri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa ceria, hangat, dan santai. Keributan tawa, gerak berjalan santai, serta detail-detail kecil menciptakan atmosfer ringan yang menyerupai ingatan akan masa muda atau sore yang tak ingin segera berakhir.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyiratkan amanat agar manusia berani menikmati momen sederhana tanpa terlalu terikat pada aturan, barang, maupun kecemasan akan hal-hal sepele. Kebahagiaan sering kali hadir dalam kebersamaan dan kesediaan untuk hadir sepenuhnya pada satu waktu.

Puisi "Kepada Marry Mangunsong" karya Karno Kartadibrata menampilkan keindahan momen kecil yang sering luput dari perhatian. Dengan bahasa yang ringan dan imaji yang hidup, puisi ini menjadi semacam catatan kenangan tentang satu sore yang ingin disimpan apa adanya. Ia mengajak pembaca untuk sejenak melupakan beban dan menikmati kebersamaan, sebelum waktu kembali berjalan dan segala jejak akhirnya tertinggal.

Karno Kartadibrata
Puisi: Kepada Marry Mangunsong
Karya: Karno Kartadibrata

Biodata Karno Kartadibrata:
  • Karno Kartadibrata lahir pada tanggal 10 Februari 1945 di Garut, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.