Kepada R.A.
Pelabuhan sepi sekali
Ketika kapal ini menjauh
Terbayang musim gugur melintas
: sepi sekali
Satu demi satu anak tangga ungkai
Dari kaki. Malam dan matahari jadi tak berbagi
Dan aku rindukan secangkir kopi
Pelabuhan pertama bagi berpuluh tugu
Yang telah kudirikan buatmu
Gugur tanya di bawah siuman
Tentang cereceh burung tempua
Dan padi yang menguning
Andai datang saatnya
Matahari pengab-pengab di timur
Atau bintang-bintang. Padahal buat kita
Hari itu dupa terbakar
Di sisi kamar
1969
Sumber: Horison (Juli, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Kepada R.A.” menampilkan lirisisme yang tenang dan reflektif, dengan latar pelabuhan, perjalanan, dan kenangan yang terus bergerak di antara waktu. Melalui bahasa yang hemat namun sarat suasana, penyair menyampaikan pengalaman perpisahan, kerinduan, dan pengingatan yang berlangsung secara sunyi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan kerinduan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema perjalanan batin, kenangan yang ditinggalkan, serta upaya menjaga ingatan terhadap seseorang yang penting meskipun jarak dan waktu memisahkan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah pelabuhan yang sepi ketika kapal menjauh, menandai momen keberangkatan dan perpisahan. Penyair menyusuri tangga, merasakan ketidakseimbangan antara malam dan matahari, serta merindukan secangkir kopi—sebuah detail kecil yang memperkuat kesan sunyi. Pelabuhan juga dimaknai sebagai “pelabuhan pertama” bagi kenangan dan tugu-tugu batin yang didirikan untuk sosok yang dituju, yakni R.A.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perpisahan bukan hanya peristiwa fisik, melainkan pengalaman emosional yang membangun lapisan kenangan. Pelabuhan menjadi metafora titik awal dan titik tinggal: tempat berangkatnya tubuh, sekaligus tempat menetapnya ingatan. Kerinduan hadir bukan sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai keheningan yang mengendap.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana sepi, hening, dan melankolis. Kata “sepi” yang diulang menegaskan kekosongan ruang dan perasaan, sementara detail musim gugur dan cahaya yang pengap menambah nuansa murung yang lembut.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat bahwa kenangan dan kasih tidak selalu memerlukan kehadiran fisik. Dalam perpisahan, manusia justru belajar merawat ingatan dan menerima jarak sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Puisi “Kepada R.A.” karya Darius Umari memperlihatkan keindahan perpisahan yang diungkapkan secara sunyi dan bersahaja. Melalui citraan pelabuhan dan perjalanan, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana kenangan, rindu, dan cinta dapat terus hidup dalam diam, bahkan ketika jarak tak terhindarkan.