Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kepada Tuhan (Karya Rhey Fandra Yoga Simbolon)

Puisi "Kepada Tuhan" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon bercerita tentang seseorang yang terbangun di pagi hari dalam keadaan fisik dan batin yang ...

Kepada Tuhan

Pagi ini
Aku bangun di antara gumpalan baju-baju
Dengan kertas-kertas tugas yang lusuh berpesai-pesai
Dan bohlam yang mulai redup
Seperti jiwa raga yang mengeruh
Dan hati yang hancur.

Mengapa, mengapa semua terjadi?
Apakah dosa dan kesalahanku?

Mata yang mengantuk berjalan 
Menuju cahaya yang berpendar di suatu ruangan, kamar mandi
Menimba air dan membasuh air ke badan
Walau dingin tak sanggup menusuk tulang dan sendi
Hanya hati yang terluka yang menerjunkan air mata.

Sekali lagi, mengapa semua terjadi?
Besarkah dosa dan salahku?

Berjalan di jalan sepi pagi ini
Membawa sepucuk harapan dari hati terdalam, lagi dan lagi
Walaupun kecewa sudah tak tertahankan kini
Namun, jiwa masih memohon belas kasih 
Dengan harap mukjizat kan datang kesini.

Sekali lagi, dan lagi, mengapa semua terjadi?
Apakah doa dan permohonanku ditangguhkan oleh dosa?

Sepi, sepi sekali
Banyak pemalak dan bandit di jalan ini
Aku takut, mengapa tidak ada terang di sini?
Agar aku bisa berjalan tanpa takut lagi
Dan hilang segala kuatir.

Sekali lagi, hanya sebait lagi, mengapa ini semua terjadi?
Mengapa Ia tak datang menjagaku?

Berharap dan selalu memohon, aku berharap
Semoga terang dan jiwa kembali ke raga
Yang membawa seluruh simpul senyum kerap
Dan tangis akan menjadi tawa.

Analisis Puisi:

Puisi Kepada Tuhan karya Rhey Fandra Yoga Simbolon merupakan ungkapan doa yang lahir dari kelelahan batin dan kegelisahan hidup. Dengan bahasa yang lugas dan naratif, puisi ini menghadirkan suasana pagi yang muram sebagai latar dialog batin antara manusia yang terluka dan Tuhan yang dirindukan kehadiran-Nya. Puisi ini tidak menampilkan kepasrahan yang hening, melainkan pergulatan iman yang penuh tanya.

Tema

Tema puisi ini adalah kegelisahan spiritual dan pencarian makna di tengah penderitaan hidup. Tokoh aku mempertanyakan sebab musabab derita yang dialaminya, sembari tetap memelihara harapan akan belas kasih Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terbangun di pagi hari dalam keadaan fisik dan batin yang berantakan. Ia mempertanyakan dosa dan kesalahannya, menjalani rutinitas sederhana seperti mandi dan berjalan di jalan sepi, sambil membawa harapan kecil akan mukjizat dan perlindungan Tuhan di tengah rasa takut dan kesepian.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa iman sering kali diuji justru ketika hidup terasa paling gelap. Pertanyaan yang berulang tentang dosa dan penundaan doa mencerminkan rasa bersalah dan keraguan, namun sekaligus menandakan bahwa tokoh "aku" masih percaya dan berharap. Ketiadaan “terang” bukan semata-mata absennya Tuhan, melainkan fase pencarian yang harus dilalui.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana muram, sepi, dan cemas, tetapi perlahan bergerak menuju harapan. Rasa takut, luka, dan kelelahan mendominasi bagian awal, sebelum ditutup dengan doa agar terang dan sukacita kembali hadir.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa mempertanyakan Tuhan bukanlah tanda kehilangan iman, melainkan bagian dari proses mendekat. Puisi ini mengajak pembaca untuk tetap berharap dan berdoa, bahkan ketika jawaban belum juga datang.

Puisi "Kepada Tuhan" karya Rhey Fandra Yoga Simbolon menghadirkan doa yang jujur dan manusiawi. Ia tidak menampilkan iman yang sempurna, melainkan iman yang terluka namun tetap berharap. Dengan bahasa sederhana dan pengulangan pertanyaan yang menyayat, puisi ini menjadi cermin bagi banyak pembaca yang pernah merasa sendirian, tetapi tetap menggantungkan harap pada terang yang dijanjikan.

Rhey Fandra Yoga Simbolon
Puisi: Kepada Tuhan
Karya: Rhey Fandra Yoga Simbolon

Biodata Rhey Fandra Yoga Simbolon:
  • Rhey Fandra Yoga Simbolon saat ini aktif sebagai pelajar SMA.
© Sepenuhnya. All rights reserved.