Keputusan Lama
Kuputuskan untuk mencintai laut
di manapun ia berada.
Tapi aku lahir, besar,
dan mungkin mati di gunung.
Cuma dua tiga kali
bertemu laut. Itupun tidak sengaja.
Sekali, ketika kudaki bukit selatan
dari puncaknya kulihat laut
terlentang sampai ujung dunia.
Kedua, ketika aku pergi ke lain pulau.
Kapal penyeberangan menyelinap
di laut malam-malam.
Engkau tak ada. Tapi laut bergelora
tidak sanggup menahan dendamnya.
Telah begitu sering aku menyebutnya.
Dalam sajak, dalam doa-doa,
bahwa laut tak pernah hilang
dari angan-angan orang yang setia.
Kuputuskan untuk mencintai laut
jauh-jauh hari sebelum kau ada
dan menawanku di hutan-hutanmu
yang subur dan wangi ini.
Jakarta, 31 Mei 1995
Sumber: Masih bersama Langit (2000)
Analisis Puisi:
Puisi “Keputusan Lama” karya Eka Budianta menghadirkan pergulatan batin yang tenang namun mendalam. Dengan bahasa yang sederhana dan lugas, penyair menyampaikan kisah tentang pilihan, kesetiaan, dan cinta yang tidak selalu sejalan dengan takdir tempat dan keadaan hidup. Laut dan gunung hadir bukan sekadar latar alam, melainkan simbol dua dunia yang saling berjarak namun terus berkelindan dalam kesadaran tokoh “aku”.
Puisi ini terasa personal, tetapi sekaligus universal, karena berbicara tentang keputusan batin yang sering kali harus dijalani manusia sepanjang hidupnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesetiaan pada pilihan batin yang telah ditetapkan sejak awal, meski hidup berjalan di arah yang berbeda. Laut menjadi simbol cinta, impian, atau orientasi batin, sementara gunung melambangkan realitas hidup yang ditempati dan dijalani sehari-hari.
Tema lain yang menyertai adalah pertentangan antara hasrat dan kenyataan, serta keteguhan manusia dalam memegang keputusan yang telah lama diambil, meski tidak selalu terwujud secara fisik.
Puisi ini bercerita tentang pengakuan seseorang yang memutuskan untuk mencintai laut, meskipun ia lahir, besar, dan kemungkinan akan mati di gunung. Pertemuan dengan laut sangat jarang dan terjadi secara tidak sengaja, namun laut tetap hadir kuat dalam ingatan dan batin tokoh aku.
Dalam perjalanan hidupnya, laut hanya ditemui dari kejauhan—dari puncak bukit dan dari kapal penyeberangan di malam hari. Sementara itu, hadir pula sosok “engkau” yang dikaitkan dengan hutan, kesuburan, dan keharuman, seolah menjadi representasi cinta yang nyata dan dekat, tetapi datang setelah keputusan mencintai laut diambil.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta dan kesetiaan tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik yang terus-menerus. Laut, meski jarang ditemui, tidak pernah hilang dari pikiran dan doa tokoh aku. Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang jauh justru bisa menjadi pusat orientasi batin yang paling kuat.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa keputusan hidup sering kali diambil sebelum kita benar-benar memahami konsekuensinya, dan ketika realitas datang dengan tawaran yang lain, keputusan lama itu tetap membekas dan sulit ditinggalkan.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana reflektif, tenang, dan sedikit melankolis. Tidak ada ledakan emosi, melainkan perenungan yang dewasa dan pasrah. Nada puisi terasa lembut, seolah tokoh aku telah berdamai dengan jarak antara keinginan dan kenyataan hidupnya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya kejujuran pada pilihan batin sendiri, sekalipun hidup membawa manusia ke jalan yang berbeda. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kesetiaan bukan hanya soal keberadaan fisik, melainkan tentang konsistensi rasa dan ingatan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “laut bergelora / tidak sanggup menahan dendamnya”, laut digambarkan memiliki perasaan seperti manusia.
- Metafora: laut sebagai lambang cinta, impian, atau orientasi batin yang jauh namun setia.
- Repetisi: pengulangan frasa “Kuputuskan untuk mencintai laut” menegaskan keteguhan keputusan tokoh aku.
Puisi “Keputusan Lama” karya Eka Budianta adalah puisi tentang kesetiaan yang sunyi dan pilihan yang bertahan melampaui keadaan. Dengan simbol alam yang kuat dan bahasa yang sederhana, penyair mengajak pembaca merenungkan keputusan-keputusan lama dalam hidup—keputusan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terus hidup dalam doa, sajak, dan ingatan.
Karya: Eka Budianta
Biodata Eka Budianta:
- Christophorus Apolinaris Eka Budianta Martoredjo.
- Eka Budianta lahir pada tanggal 1 Februari 1956 di Ngimbang, Jawa Timur.
