Kesadaran
Mencucuk kesadaran ini kepada yang akan datang
Kenyataan bicara kepadamu kepada kita
Lewat jari-jari putus asa telah jadi darah dagingnya
Mimpi masa silam terlalu pahit buat dikenang
Lautmu lautku akan kering ditimba?
Hidup dari hidupku kembali mekar menyala
Kutahu pengalaman adalah guru terakhir
Kaupun menanti
Kita adalah mereka yang belum penat berjalan
Kita adalah mereka yang belum lelah berjoang
Seperti serdadu pulang membawa senapang
Seperti mereka yang kini telah jadi pahlawan
Kita adalah senasib dengan mereka dalam joang ini
Kembara membosankan katakanlah tidak punya putus asa
Hidup dari hidupku seperti mereka yang terlunta
Bawalah aku ke pengembaraan yang jujur wahai hari!
1963
Sumber: Horison (Oktober, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi "Kesadaran" karya Rusli Marzuki Saria tampil sebagai puisi reflektif yang sarat semangat perjuangan dan kesadaran kolektif. Dengan bahasa yang tegas dan penuh dorongan moral, puisi ini mengajak pembaca menengok pengalaman masa lalu, menghadapi kenyataan hari ini, dan menatap masa depan dengan sikap tidak menyerah. Kesadaran dalam puisi ini bukan sekadar kesadaran personal, melainkan kesadaran sosial dan historis.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran perjuangan dan keteguhan menjalani kehidupan. Puisi ini juga mengangkat tema pengalaman hidup, solidaritas, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kenyataan yang pahit.
Puisi ini bercerita tentang upaya menanamkan kesadaran kepada generasi yang akan datang melalui pengalaman hidup yang telah dilalui. Penyair berbicara atas nama “kita”, menandakan suara kolektif dari mereka yang masih berjalan dan berjuang. Kenyataan hidup digambarkan keras, penuh keputusasaan, dan luka masa lalu, tetapi tidak membuat subjek puisi berhenti. Mereka justru terus bergerak, seperti serdadu yang pulang dari medan perang atau pejuang yang telah menjadi pahlawan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah ajakan untuk tidak melupakan sejarah perjuangan dan penderitaan sebagai sumber kesadaran. Masa lalu yang pahit bukan untuk disesali, melainkan dijadikan bekal agar hidup terus “mekar menyala”. Puisi ini menyiratkan bahwa kesadaran sejati lahir dari pengalaman langsung, bukan dari teori atau janji kosong.
Kesadaran juga dimaknai sebagai sikap jujur dalam menjalani kehidupan dan pengembaraan, tanpa menyerah pada kelelahan atau kebosanan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung tegas, heroik, dan penuh daya juang. Meski mengandung kepahitan dan kelelahan, nada puisi tetap optimistis dan bersemangat, seolah mengobarkan keyakinan untuk terus melangkah.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga kesadaran dan semangat perjuangan. Puisi ini mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang menuntut keteguhan, kejujuran, dan keberanian untuk terus berjuang, baik demi diri sendiri maupun demi orang lain.
Puisi "Kesadaran" adalah puisi yang menyuarakan daya hidup dan keteguhan manusia dalam menghadapi kenyataan. Rusli Marzuki Saria menghadirkan kesadaran bukan sebagai renungan pasif, melainkan sebagai sikap aktif untuk terus berjalan, berjuang, dan menempuh pengembaraan hidup dengan kejujuran dan keberanian.
Puisi: Kesadaran
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.