Analisis Puisi:
Puisi “Ketika Api Telah Padam” karya Diah Hadaning menghadirkan potret pasca-konflik yang tidak sepenuhnya selesai. Melalui larik-larik yang sederhana namun sarat makna, penyair menyingkap ironi antara situasi yang tampak kembali normal dengan luka-luka kemanusiaan yang masih tersisa dan belum benar-benar pulih.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ingatan kolektif atas konflik dan penderitaan, serta ironi pemulihan sosial yang kerap melupakan luka mendalam yang ditinggalkan. Puisi ini juga menyentuh tema kemanusiaan dan trauma pascakekerasan.
Puisi ini bercerita tentang keadaan setelah kerusuhan atau pergolakan berlalu. Api telah padam, jalanan dibersihkan, anak-anak kembali bermain, dan orang-orang mulai berkumpul menyerukan pembaruan. Namun, di balik gambaran pemulihan tersebut, masih tertinggal air mata dan darah—di kampus perjuangan, di jalanan sebelum hujan, dan di hari-hari yang kehilangan arah.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kecenderungan masyarakat dan penguasa untuk cepat melupakan tragedi begitu situasi terlihat aman. Penyair mengingatkan bahwa pembersihan fisik tidak serta-merta menghapus luka batin, kehilangan nyawa, dan trauma yang dialami banyak orang.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa tenang di permukaan, namun muram dan getir di kedalaman makna. Ada kesan hening pascakejadian besar, tetapi hening itu menyimpan kesedihan, duka, dan pertanyaan yang belum terjawab.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan yang telah terjadi. Puisi ini menegaskan pentingnya mengingat, merawat ingatan kolektif, dan menuntaskan keadilan, bukan sekadar merayakan stabilitas semu.
Puisi “Ketika Api Telah Padam” karya Diah Hadaning menjadi pengingat bahwa berakhirnya konflik tidak selalu berarti berakhirnya penderitaan. Dengan bahasa yang jernih dan pengulangan yang efektif, puisi ini menegaskan bahwa ingatan, empati, dan keadilan adalah bagian penting dari proses penyembuhan yang sejati.

Puisi: Ketika Api Telah Padam
Karya: Diah Hadaning