Analisis Puisi:
Puisi “Ketika Kata Hilang Lafaz” merupakan puisi tipografi karya Remy Sylado yang termuat dalam buku Puisi Mbeling (2004). Puisi ini tergolong unik karena tidak menggunakan kata atau kalimat sebagaimana puisi pada umumnya. Isi puisi hanya terdiri atas dua tanda baca, yaitu tanda seru (!) dan tanda tanya (?). Kesederhanaan bentuk tersebut justru menjadi kekuatan utama dalam menyampaikan makna.
Sebagai puisi tipografi, karya ini menempatkan visual sebagai pusat penafsiran. Pembaca diajak untuk membaca makna melalui simbol, bukan melalui rangkaian kata.
Tema
Tema puisi ini adalah egoik, berkaitan dengan kondisi batin manusia ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, khususnya saat mengalami kebingungan, keraguan, dan perubahan keadaan akibat ketidaktahuan.
Puisi ini bercerita tentang situasi manusia yang berada dalam persimpangan emosi dan pemikiran. Tanda seru melambangkan keterkejutan, tekanan, atau reaksi spontan, sedangkan tanda tanya merepresentasikan kebingungan, keraguan, dan pencarian jawaban.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa ketika kata-kata kehilangan lafaz atau tidak lagi mampu diucapkan, manusia hanya menyisakan reaksi emosional dan pertanyaan batin. Puisi ini menyiratkan kondisi ketika seseorang tidak tahu harus berkata apa, sehingga ekspresi hanya muncul dalam bentuk simbol kebingungan dan keterkejutan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi menggambarkan perubahan keadaan karena ketidaktahuan. Ada kesan guncangan batin yang kemudian berlanjut pada kebimbangan dan pencarian makna.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa manusia terkadang kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi masalah. Dalam kondisi tersebut, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan ketenangan, kesabaran, serta upaya menemukan solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi.
Melalui puisi “Ketika Kata Hilang Lafaz”, Remy Sylado menunjukkan bahwa puisi tidak selalu bergantung pada bahasa verbal. Dengan memanfaatkan tanda baca sebagai medium ekspresi, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi ego manusia yang rapuh ketika berhadapan dengan ketidaktahuan dan masalah hidup. Kesunyian kata dalam puisi ini justru mempertegas pesan tentang pentingnya ketenangan dan refleksi diri.
Karya: Remy Sylado
