Analisis Puisi:
Puisi "Kota Tua" karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek dengan larik-larik ringkas, namun sarat muatan makna. Dengan pilihan diksi yang sederhana dan citraan yang kuat, penyair menghadirkan refleksi tentang ruang, waktu, dan ingatan kolektif yang perlahan terkikis oleh modernitas dan kebijakan pembangunan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepunahan sejarah dan ingatan kolektif akibat pembangunan yang bersifat semu. Kota tua tidak hanya diposisikan sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai simbol warisan masa lalu yang rapuh dan terancam hilang. Tema ini beririsan dengan kritik sosial terhadap proyek pelestarian yang justru gagal menjaga esensi sejarah.
Puisi ini bercerita tentang sebuah kota tua—kota lama, kota purba—yang nyaris musnah. Kota tersebut menyimpan kenangan dan impian yang telah ditumbuhi “lumut”, menandakan usia, keterabaian, sekaligus keusangan. Namun alih-alih benar-benar dilestarikan, kota tua itu justru menjadi korban proyek pelestarian yang ironis: pelestarian yang tidak menyelamatkan, melainkan menghapus makna.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini mengarah pada kritik terhadap cara manusia memperlakukan sejarah. Frasa “sia-sia dipagut proyek pelestarian” menyiratkan paradoks: upaya pelestarian yang bersifat administratif, kosmetik, atau berorientasi proyek semata justru merusak ruh sejarah itu sendiri. Sejarah menjadi objek, bukan nilai; menjadi komoditas, bukan warisan hidup.
Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai kegelisahan atas hilangnya identitas kota akibat modernisasi yang tidak berakar pada ingatan kolektif.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini cenderung muram, getir, dan ironis. Kata-kata seperti nyaris musna, sia-sia, serta citraan lumut menghadirkan nuansa kehilangan dan kekecewaan. Tidak ada kemarahan yang meledak, melainkan kesedihan yang tenang dan getir.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar pelestarian sejarah tidak dilakukan secara dangkal. Merawat kota tua bukan hanya soal proyek fisik, tetapi juga tentang menjaga makna, memori, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tanpa kesadaran tersebut, pelestarian justru berubah menjadi bentuk lain dari perusakan.
Puisi "Kota Tua" adalah puisi singkat namun tajam, yang mengajak pembaca merenungkan kembali hubungan antara masa lalu, pembangunan, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga sejarah agar tidak sekadar menjadi nama tanpa makna.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
