Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kuil Ise, Prosesi (Karya Mochtar Pabottingi)

Puisi “Kuil Ise, Prosesi” karya Mochtar Pabottingi bercerita tentang sebuah prosesi sakral di Kuil Ise, digambarkan sebagai “prosesi ajaib” yang ...
Kuil Ise, Prosesi

/A/

Prosesi ajaib itu bergerak
    di tengah gerimis
    dalam percintaan kosmis

Berjubah putih-putih. Mereka berbaris
    Seperti gumam partitur
    di musim gugur

/B/

Siapakah mengalirkan dari Gunung Fuji
    kristal-kristal air dan udara ke parit-parit
    hutan sini. Sehingga deretan pohon
    sedar pun tumbuh ke langit

Siapakah memasang zirah bambu-bambu bilah
    ke batang-batang perkasa. Tempat angin
    dan musim mengurai gundah

Siapakah mengajari patahan dahanmu seru cinta
    merah saga di seantero lingkar luka

Siapakah membaringkan luruh daunan sugi sehingga
    mengering dan aus di seputar akar. Lalu
    sebagai sel-sel menerobos. Ke asal
    segala siklus


/C/

Hanya prosesi ajaib itu
    yang bisa memasuki jalan setapak ke perbukitan
    lengang tempat semayam para mambang
    para kami, dan danyang

Hanya ketukan-ketukan bambu di tangan barisan biksu
    yang mampu mengundang para bidari menari
    di pucuk-pucuk pohonan sedan. Yang setia semadi

Dan di ujung prosesi
    engkau pun, engkau pun terhela gerimis musim
    gugur ke haribaan leluhur


/D/

Maka ke lembah-lembah sekitar bergemalah kor mantra
    pada deretan icho dan momiji
    pada perairan mineral gurih ikan-ikan gindara
    pada deru angin perawan di pundak-pundak Torii
    pada harum subur rimba belantara
    Di sepanjang rentang negeri

: dalam cinta dan setia
musim pun hablur. Bersama berhala-berhala

2004

Sumber: Konsierto di Kyoto (2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Kuil Ise, Prosesi” karya Mochtar Pabottingi merupakan sajak yang bernuansa spiritual, ritualistik, dan kosmis. Puisi ini memadukan lanskap alam Jepang—Gunung Fuji, hutan, momiji, torii—dengan dimensi sakral yang menghubungkan manusia, alam, dan leluhur. Bahasa yang digunakan bersifat liris, penuh simbol, dan bergerak seperti sebuah upacara yang perlahan namun khidmat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesakralan ritual dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cinta kosmis, kesetiaan pada tradisi, serta siklus kehidupan yang terus berulang.

Puisi ini bercerita tentang sebuah prosesi sakral di Kuil Ise, digambarkan sebagai “prosesi ajaib” yang berlangsung di tengah gerimis dan musim gugur. Barisan berjubah putih, ketukan bambu para biksu, serta kehadiran roh-roh penjaga alam dan leluhur membentuk perjalanan spiritual menuju ruang sunyi di perbukitan.

Prosesi tersebut tidak hanya dilihat sebagai peristiwa fisik, melainkan juga sebagai perjalanan batin, di mana “engkau” akhirnya turut terhela menuju haribaan leluhur, menyatu dengan tradisi dan alam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa ritual bukan sekadar tradisi lahiriah, melainkan sarana menjaga keseimbangan kosmos. Pertanyaan-pertanyaan retoris tentang siapa yang mengalirkan air, menegakkan bambu, dan mengajari dahan-dahan mencintai, mengarah pada kesadaran akan kekuatan tak kasatmata yang mengatur alam.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari siklus besar, yang pada akhirnya kembali ke asal, ke leluhur, dan ke alam. Prosesi menjadi simbol jalan pulang menuju sumber kehidupan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa khidmat, magis, dan meditatif. Gerimis musim gugur, hutan lengang, serta mantra yang bergema menciptakan nuansa tenang namun sakral, seolah pembaca ikut melangkah perlahan dalam prosesi spiritual tersebut.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga kesetiaan pada nilai-nilai spiritual dan tradisi, serta merawat hubungan harmonis dengan alam. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa keselarasan hidup lahir dari rasa hormat kepada siklus alam, leluhur, dan cinta yang melampaui batas individu.

Puisi “Kuil Ise, Prosesi” adalah puisi yang menghadirkan pengalaman spiritual lintas budaya. Mochtar Pabottingi berhasil menggambarkan ritual sebagai peristiwa kosmis yang menyatukan manusia, alam, dan leluhur dalam cinta, kesetiaan, dan siklus kehidupan yang abadi.

Mochtar Pabottingi
Puisi: Kuil Ise, Prosesi
Karya: Mochtar Pabottingi

Biodata Mochtar Pabottingi:
  • Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.