Sumber: Konsierto di Kyoto (2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Kuil Ise, Prosesi” karya Mochtar Pabottingi merupakan sajak yang bernuansa spiritual, ritualistik, dan kosmis. Puisi ini memadukan lanskap alam Jepang—Gunung Fuji, hutan, momiji, torii—dengan dimensi sakral yang menghubungkan manusia, alam, dan leluhur. Bahasa yang digunakan bersifat liris, penuh simbol, dan bergerak seperti sebuah upacara yang perlahan namun khidmat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesakralan ritual dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cinta kosmis, kesetiaan pada tradisi, serta siklus kehidupan yang terus berulang.
Puisi ini bercerita tentang sebuah prosesi sakral di Kuil Ise, digambarkan sebagai “prosesi ajaib” yang berlangsung di tengah gerimis dan musim gugur. Barisan berjubah putih, ketukan bambu para biksu, serta kehadiran roh-roh penjaga alam dan leluhur membentuk perjalanan spiritual menuju ruang sunyi di perbukitan.
Prosesi tersebut tidak hanya dilihat sebagai peristiwa fisik, melainkan juga sebagai perjalanan batin, di mana “engkau” akhirnya turut terhela menuju haribaan leluhur, menyatu dengan tradisi dan alam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa ritual bukan sekadar tradisi lahiriah, melainkan sarana menjaga keseimbangan kosmos. Pertanyaan-pertanyaan retoris tentang siapa yang mengalirkan air, menegakkan bambu, dan mengajari dahan-dahan mencintai, mengarah pada kesadaran akan kekuatan tak kasatmata yang mengatur alam.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari siklus besar, yang pada akhirnya kembali ke asal, ke leluhur, dan ke alam. Prosesi menjadi simbol jalan pulang menuju sumber kehidupan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa khidmat, magis, dan meditatif. Gerimis musim gugur, hutan lengang, serta mantra yang bergema menciptakan nuansa tenang namun sakral, seolah pembaca ikut melangkah perlahan dalam prosesi spiritual tersebut.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga kesetiaan pada nilai-nilai spiritual dan tradisi, serta merawat hubungan harmonis dengan alam. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa keselarasan hidup lahir dari rasa hormat kepada siklus alam, leluhur, dan cinta yang melampaui batas individu.
Puisi “Kuil Ise, Prosesi” adalah puisi yang menghadirkan pengalaman spiritual lintas budaya. Mochtar Pabottingi berhasil menggambarkan ritual sebagai peristiwa kosmis yang menyatukan manusia, alam, dan leluhur dalam cinta, kesetiaan, dan siklus kehidupan yang abadi.
Karya: Mochtar Pabottingi
Biodata Mochtar Pabottingi:
- Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
