Kuingat Jalan Batu
Kuingat jalan batu
Antara kota Blora dan kota Cepu
Gadis-gadis pun senyum malu
Ketika kelelawar pulang berburu
Kuingat jalan kecil berbatu
Antara Blora dan rumah-Mu
Anak-anak kecil di kerak batu
Menunggu embun tumbuh di bubu
Bukit kecil yang ramping
Di sisinya kali kecil menyumping
Larut dalam nyala udara
Menyambut hari depan yang gila
Kuingat itu semua
Karena aku adalah miliknya
Tokyo, 1982
Analisis Puisi:
Puisi “Kuingat Jalan Batu” karya Suripan Sadi Hutomo menghadirkan ingatan yang sederhana namun sarat makna. Melalui citraan ruang pedesaan antara Blora dan Cepu, penyair merangkai kenangan personal yang berkelindan dengan alam, manusia, dan rasa keterikatan batin yang mendalam. Puisi ini bergerak pelan, seperti langkah kaki di jalan berbatu, namun menyimpan emosi yang kuat tentang kepemilikan, kenangan, dan asal-usul.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan dan keterikatan batin terhadap tempat asal. Jalan batu menjadi simbol ingatan, perjalanan hidup, serta hubungan emosional antara penyair dengan ruang, manusia, dan sosok “Mu” yang dimaknai personal sekaligus simbolis.
Puisi ini bercerita tentang ingatan penyair terhadap jalan berbatu yang menghubungkan Blora dan Cepu, serta jalan kecil menuju “rumah-Mu”. Di sepanjang ingatan itu hadir gambaran gadis-gadis, anak-anak, bukit, hingga kali kecil. Semua potret tersebut dirangkai sebagai fragmen kenangan yang hidup dan membekas.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kesadaran bahwa identitas seseorang dibentuk oleh ruang dan pengalaman masa lalu. Jalan batu tidak hanya berfungsi sebagai jalan fisik, melainkan sebagai simbol perjalanan hidup dan keterikatan batin yang membuat penyair merasa “memiliki” dan “dimiliki” oleh tempat tersebut.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung hening, nostalgis, dan melankolis lembut. Ada rasa rindu yang tenang, tanpa gejolak, seolah penyair sedang menatap kembali masa lalu dengan penerimaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menghargai asal-usul dan kenangan yang membentuk diri. Puisi ini menyiratkan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, keterikatan pada tempat dan pengalaman awal akan selalu menjadi bagian dari jati diri.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada “menyambut hari depan yang gila” yang memberi sifat manusia pada waktu.
- Metafora, pada “jalan batu” sebagai simbol perjalanan hidup dan kenangan.
- Repetisi, pada frasa “Kuingat” yang menegaskan kekuatan ingatan dalam puisi.
Puisi “Kuingat Jalan Batu” karya Suripan Sadi Hutomo adalah puisi kenangan yang sederhana namun sarat makna. Melalui bahasa yang jernih dan citraan alam pedesaan, penyair menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terlepas dari tempat yang membesarkannya. Ingatan, dalam puisi ini, bukan sekadar masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang terus hidup.
Karya: Suripan Sadi Hutomo
Biodata Suripan Sadi Hutomo:
- Suripan Sadi Hutomo lahir pada tanggal 5 Februari 1940 di Ngawen, Blora.
- Suripan Sadi Hutomo meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 2001 di Surabaya.