Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Laut Dibakar Matahari (Karya Diah Hadaning)

Puisi "Laut Dibakar Matahari" karya Diah Hadaning bercerita tentang sebuah “kebohongan paling besar” yang terjadi hari ini, yakni anggapan bahwa ...
Laut Dibakar Matahari

Inilah kebohongan paling besar hari ini
tentang laut yang dibakar matahari
tinggal dasar gosong keropeng
ikan-ikan menggelepar
manusia hingar-bingar
matahari 
ada di mataku ada di matamu.

Jakarta, 1979

Analisis Puisi:

Puisi "Laut Dibakar Matahari" karya Diah Hadaning merupakan sajak singkat namun tajam, yang memadatkan kritik, ironi, dan kegelisahan dalam larik-larik pendek. Dengan bahasa yang lugas dan metaforis, penyair menghadirkan gambaran kehancuran yang tidak semata-mata bersumber dari alam, melainkan dari cara manusia memandang dan memperlakukan dunia di sekitarnya. Puisi ini bekerja melalui paradoks: laut yang seharusnya luas dan hidup justru digambarkan hangus dan sekarat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kebohongan dan kehancuran yang dihasilkan oleh kesadaran manusia sendiri. Puisi ini juga menyentuh tema krisis ekologis, manipulasi realitas, dan tanggung jawab kolektif manusia terhadap kerusakan alam. Matahari, laut, dan manusia ditempatkan dalam satu relasi sebab-akibat yang ironis.

Puisi ini bercerita tentang sebuah “kebohongan paling besar” yang terjadi hari ini, yakni anggapan bahwa laut dibakar oleh matahari. Laut digambarkan kering, gosong, dan keropeng; ikan-ikan menggelepar; manusia justru hiruk-pikuk. Namun, pada larik akhir, penyair membalik sudut pandang: matahari itu “ada di mataku ada di matamu”.

Dengan demikian, puisi ini tidak benar-benar bercerita tentang bencana alam, melainkan tentang kesalahan cara pandang manusia yang menimpakan kesalahan kepada alam, padahal sumber kehancuran berasal dari manusia sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sikap manusia yang menutupi peran dirinya dalam kehancuran lingkungan dan sosial. “Laut yang dibakar matahari” adalah metafora kebohongan besar, sebab matahari hanyalah simbol. Penyebab sesungguhnya adalah keserakahan, kelalaian, dan kesadaran manusia yang menyala tanpa kendali.

Ketika matahari disebut berada di mata manusia, puisi ini menyiratkan bahwa kehancuran bermula dari cara manusia melihat, menilai, dan bertindak. Realitas yang rusak lahir dari perspektif dan nafsu yang tak terjaga.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa keras, getir, dan penuh ironi. Nada pernyataan yang tegas dan langsung menciptakan kesan kemarahan yang tertahan. Tidak ada kesedihan yang melankolis, melainkan kegelisahan yang tajam dan menggugat pembaca untuk ikut bertanya tentang perannya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk jujur pada diri sendiri dan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Puisi ini menegaskan bahwa menyalahkan alam atau keadaan hanyalah cara untuk menutupi kesalahan manusia.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan agar manusia mengoreksi cara pandangnya, sebab dari pandangan itulah lahir tindakan yang menentukan nasib alam dan kehidupan lain di sekitarnya.

Puisi "Laut Dibakar Matahari" karya Diah Hadaning adalah sajak pendek yang menggugah dan mengusik. Dalam keterbatasan kata, puisi ini menyimpan daya kritik yang kuat, menantang pembaca untuk melihat ulang realitas dan mengakui peran manusia dalam kebohongan serta kehancuran yang terjadi.

"Puisi: Laut Dibakar Matahari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Laut Dibakar Matahari
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.