Sumber: Meditasi (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Laut" karya Abdul Hadi WM merupakan salah satu puisi liris yang memperlihatkan kedalaman relasi batin antara manusia dan alam. Laut tidak sekadar dihadirkan sebagai bentang alam, melainkan sebagai sosok dialogis: sahabat, pasangan, bahkan cermin batin penyair. Dengan bahasa yang mengalir panjang seperti ombak, puisi ini bergerak dari sapaan pagi hingga senja, dari kegembiraan hingga renungan tentang maut dan cinta.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan intim antara manusia dan alam sebagai ruang kontemplasi eksistensial. Puisi ini juga mengandung tema cinta, kesetiaan, kefanaan hidup, serta pencarian makna diri melalui dialog batin. Laut menjadi simbol keabadian dan keluasan yang berhadapan dengan keterbatasan manusia.
Puisi ini bercerita tentang percakapan imajiner dan emosional antara penyair dan laut. Sejak pagi hari, Penyair menyapa laut, mendengar jawabannya, tertawa bersamanya, hingga berbagi keheningan. Laut digambarkan sebagai entitas yang hidup, mampu mendengar bisikan, tersenyum, bahkan tertawa.
Percakapan tersebut tidak berhenti pada hal-hal ringan, tetapi merambah pada perenungan yang dalam: tentang waktu, tubuh yang rapuh, tulang-belulang, kemungkinan maut, serta pertanyaan tentang siapa yang paling luas dan dalam—laut atau hati manusia. Pada akhirnya, relasi ini disimpulkan sebagai cinta yang sederhana namun hakiki: cinta antara kata-kata dan hati yang mengucapkannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia menemukan dirinya melalui dialog dengan sesuatu di luar dirinya. Laut berfungsi sebagai cermin batin, tempat penyair membisikkan kegelisahan, kesedihan, dan cinta. Pertanyaan tentang “siapakah di antara kami yang paling luas dan dalam” menyiratkan perbandingan antara keluasan alam dan kompleksitas batin manusia.
Puisi ini juga menyiratkan penerimaan terhadap kefanaan. Ketika maut kelak “mengeringkan tubuh”, penyair pasrah dan berharap air mata pun ikut kering. Dalam kesetiaan laut yang “tak pernah bertanya”, tersirat ketenangan dan kebijaksanaan alam yang menerima manusia apa adanya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa hangat, intim, sekaligus kontemplatif. Ada kegembiraan ringan dalam sapaan pagi dan tawa bersama laut, tetapi juga ada kesunyian dan kesedihan ketika puisi menyentuh tubuh yang menua, suara sedih, dan bayangan kematian. Peralihan dari pagi ke malam memperkuat suasana reflektif yang tenang dan mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri, alam, dan kefanaan hidup. Puisi ini mengingatkan bahwa cinta tidak selalu harus dramatis; ia bisa hadir dalam kesetiaan, percakapan sederhana, dan penerimaan yang tulus.
Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa bahasa, kata-kata, dan sajak merupakan jembatan antara perasaan manusia dan dunia di sekitarnya. Cinta antara manusia dan alam terwujud melalui kesadaran, kepekaan, dan kejujuran batin.
Puisi "Laut" karya Abdul Hadi WM merupakan sajak reflektif yang memperlihatkan kekuatan bahasa liris dalam merangkul pengalaman eksistensial manusia. Laut hadir bukan hanya sebagai latar, melainkan sebagai sahabat dialog yang setia, tempat manusia belajar tentang cinta, waktu, dan makna keberadaan.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
